Selasa, 27 September 2011

Asuhan Keperawatan Pneumothorax

A. Definisi
                Pneumothorax adalah adanya udara dalam rongga pleura. Pneumothorax dapat terjadi secara spontan atau karena trauma (British Thoracic Society 2003). Tension pneumothorax disebabkan karena  tekanan positif pada saat udara masuk ke pleura pada saat inspirasi. Pneumothorax dapat menyebabkan cardiorespiratory distress dan cardiac arrest.
 Pneumothorax ialah didapatkannya udara didalam kavum pleura (Hendra Arif, 2000)

B. Etiologi
                Pneumothorax disebabkan karena robekan pleura atau terbukanya dinding dada. Dapat berupa pneumothorak yang tertutup dan terbuka atau menegang(”Tension Pneumothorak”). Kurang lebih 75% trauma tusuk pneumothorak disertai hemotorak.
 Pneumothoraks menyebabkan paru kollaps,baik sebagian maupun keseluruhan yang menyebabkan tergesernya isi rongga dada ke sisi lain. Gejala sesak nafas progressif sampai sianosis gejala syok.

C. Klasifikasi
Pneumothoraks lebih sering terjadi  pada penderita dewasa yag berumur sekitar 40 tahun. Laki-laki lebih sering dari pada wanita. Pneumothorax sering dijumpai pada musim penyakit batuk.
Terdapat beberapa jenis pneumotoraks yang dikelompokkan berdasarkan penyebabnya:
1. Pneumotoraks spontan
                Terjadi tanpa penyebab yang jelas. Pneumotoraks spontan primer terjadi jika pada penderita tidak ditemukan penyakit paru-paru. Pneumotoraks ini diduga disebabkan oleh pecahnya kantung kecil berisi udara di dalam paru-paru yang disebut bleb atau bulla. Penyakit ini paling sering menyerang pria berpostur tinggi-kurus, usia 20-40 tahun. Faktor predisposisinya adalah merokok sigaret dan riwayat keluarga dengan penyakit yang sama. Pneumotoraks spontan sekunder merupakan komplikasi dari penyakit paru-paru (misalnya penyakit paru obstruktif menahun, asma, fibrosis kistik, tuberkulosis, batuk rejan). 
    2. Pneumotoraks traumatik
Terjadi akibat cedera traumatik pada dada. Traumanya bisa bersifat menembus (luka tusuk, peluru) atau tumpul (benturan pada kecelakaan kendaraan bermotor).
Pneumotoraks juga bisa merupakan komplikasi dari tindakan medis tertentu
 (misalnya torakosentesis).
3. Pneumotoraks karena tekanan
 Terjadi jika paru-paru mendapatkan tekanan berlebihan sehingga paru-paru
mengalami kolaps.
Tekanan yang berlebihan juga bisa menghalangi pemompaan darah oleh jantung secara efektif sehingga terjadi syok.    

D.  Patofisiologi Pneumothoraks
Alveoli disangga oleh kapilere yang mempunyai dinding lemah dan mudah robek, apabial alveoli tersebut melebar dan tekanan didalam alveoli meningkat maka udara masuk dengan mudah menuju kejaringan peribronkovaskuler gerakan nafas yang kuat, infeksi dan obstruksi endrobronkial merupakan beberapa faktor presipitasi yang memudahkan terjadinya robekan selanjutnya udara yang terbebas dari alveoli dapat mengoyak jaringan fibrotik peribronkovaskuler robekan pleura kearah yang berlawanan dengan tilus akan menimbulkan pneumothoraks, sedangkan robekan yang mengarah ke tilus dapat menimbulkan pneumomediastinum dari mediastinum udara mencari jalan menuju ke atas, ke arah leher. Diantara organ – organ medistinum terdapat jairngan ikat yang longgar sehingga mudah ditembus oleh udara . Dari leher udar menyebar merata di bawah kulit leher dan dada yang akhirnya menimbulkan emfisema sub kutis. Emfisema sub kutis dapat meluas ke arah perut hingga mencapai skretum.

E . Tanda Dan Gejala
Gejalanya sangat bervariasi, tergantung kepada jumlah udara yang masuk ke dalam
rongga pleura dan luasnya paru-paru yang mengalami kolaps (mengempis).
Gejalanya bisa berupa:
Nyeri dada tajam yang timbul secara tiba-tiba, dan semakin nyeri jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk
- Sesak nafas
- Dada terasa sempit
- Mudah lelah
- Denyut jantung yang cepat
- Warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen.
Gejala-gejala tersebut mungkin timbul pada saat istirahat atau tidur.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:
- Hidung tampak kemerahan
- Cemas, stres, tegang
- Tekanan darah rendah (hipotensi)




















F. Patway
                                Robekan pleura
                                Terbukanya dinding dada
                                               
                                 Aliran udara kerongga pleura
                                                 
                                 Tekanan dirongga pleura
                                                 
Keluar mediator nyeri                        Pengembangan paru  tdk max                                       
                                                                                                 
         Nyeri dada                                   nafas pendek + cepat                         Konpensasi u/
                                                                                                                                                memenuhi O2                                                                                                                                                                      keseluruh tubuh
                                                                                                                                                                 
                                                                                                                                         Jantung bekerja > cepat
                                                                                                                                                                 
                                                                                                                                                     Takhicardi
                                                                                                                                                                 
                                                                                                                                         Resti pe    curah jantung
                                                                                                                                        
                    










G. Penatalaksanaan
                 Penatalaksanaan pneumothoraks tergantung dari jenis pneumothoraks antara lain  dengan melakukan :
  1. Tindakan medis
                Tindakan observasi, yaitu dengan mengukur tekanan intra pleura menghisap udara dan mengembangkan paru. Tindakan ini terutama ditunjukan pada pneumothoraks tertutup atau terbuka,sedangkan untuk pneumothoraks ventil tindakan utama yang harus dilakukan dekompresi tehadap tekanan intra pleura yang tinggi tersebut yaitu dengan membuat hubungan udara ke luar.
  1. Tindakan dekompresi
                Membuat hubungan rongga pleura dengan dunia luar dengan cara :
                a.  Menusukan jarum melalui dinding dada terus masuk ke rongga pleura dengan demikian tekanan udara yang positif dirongga pleura akan berubah menjadi negatif kerena udara yang positif dorongga pleura akan berubah menjadi negatif  karena udara yang keluar melalui jarum tersebut.
                b. Membuat hubungan dengan udara luar  melalui kontra ven il.
1)       Dapat memakai infus set
2)       Jarum abbocath
3)       Pipa  WSD ( Water Sealed Drainage )
Pipa khusus ( thoraks kateter ) steril, dimasukan kerongga pleura dengan perantara thoakar  atau dengan bantuan klem penjepit ( pean ). Pemasukan pipa plastik( thoraks kateter ) dapat juga dilakukan melalui celah yang telah dibuat dengan insisi kulit dari sela iga ke 4 pada baris aksila tengah atau pada garis aksila belakang. Swelain itu data pula melalui sela iga ke 2 dari garis klavikula tengah. Selanjutnya ujung sela plastik didada dan pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik lainya,posisi ujung pipa kaca yang berada dibotol sebaiknya berada 2 cm dibawahpermukaan air supaya gelembung udara dapat dengan mudah keluar melalui tekanan tersebut.
 Penghisapan terus – menerus ( continous suction ).
 Penghisapan dilakukan terus – menerus apabial tekanan intra pleura tetap positif, penghisapan ini dilakukan dengan memberi tekanan negatif sebesar 10 – 20 cm H2O dengan tujuan agar paru cepat mengembang dan segera teryjadi perlekatan antara pleura viseralis dan pleura parentalis.
 Apabila paru telah mengembang maksimal dan tekanan intrapleura sudah negative lagi, drain drain dapat dicabut, sebelum dicabut drain ditutup dengan cara dijepit atau ditekuk selama 24 jam. Apabila paru tetap mengembang penuh, maka drain dicabut.
3. Tindakan bedah
  1. Dengan pembukaan dinding thoraks melalui operasi, dan dicari lubang yang menyebabkan pneumothoraks dan dijahit.
  2. Pada pembedahan, apabila dijumpai adanya penebalan pleura yang menyebabkan paru tidak dapat mengembang, maka dilakukan pengelupasan atau dekortisasi.
  3. Dilakukan reseksi bila ada bagian paru yang mengalami robekan atau ada fistel dari paru yang rusak, sehingga paru tersebut tidak berfungsi dan tidak dapat dipertahankan kembali.
  4. Pilihan terakhir dilakukan pleurodesis dan perlekatan antara kedua pleura ditempat fistel.


 Pengobatan tambahan :
v  Apabila terdapat proses lai diparu, maka pengobatan tambahan ditujukan terhadap penyebabnya ;
-          Terhadap proses tuberkolosis paru, diberi obat anti tuberkolosis.
-           Untuk mencegah obstipasi dan memperlancar defekasi, penderita diberi laksan ringan ringan, dengan tujuan supaya saat defekasi, penderita tidak dapat perlu mengejan terlalu keras.

v  Istirahat total
-          Penderita dilarang melakukan kerja keras ( mengangkat barang                           berat ), batuk, bersin terlalu keras, mengejan.

  

H.  Pemeriksaan diagnosa
Pemeriksaan fisik dengan bantuan stetoskop menunjukkan adanya penurunan suara pernafasan pada sisi yang terkena.
Trakea (saluran udara besar yang melewati bagian depan leher) bisa terdorong ke salah satu sisi karena terjadinya pengempisan paru-paru.

Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
1. Rontgen dada ( adanya udara diluar paru-paru)
2. Gas Darah Arteri.

ASSESSMENT
Pengkajian selalu menggunakan pendekatan ABCDE.
Airway
-          Kaji dan pertahankan jalan nafas
-          Lakukan head tilt, chin lift jika perlu
-          Gunaka alat bantu jalan nafas, jika perlu
-          Pertimbangkan untuk merujuk ke ahli anastesi untuk dilakukan intubasi jika tidak mampu mempertahankan jalan nafas.
Breathing
  • Kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter, pertahankan saturasi > 92%
  • Berikan oksigen dengan aliran  tinggin melalui non re-breath mask
  • Pertimbangkan untuk menggunakan bag-valve-mask ventilation
  • Periksakan gas darah arteri untuk mengkaji PaO2 dan PaCO2
  • Kaji respiratory rate
  • Periksa sistem pernafasan
  • Cari tanda deviasi trachea,deviasi trachea merupakan tanda tension pneumothorak

Circulation
ü  Kaji heart rate dan rhytem
ü  Catat tekanan darah
ü  Lakukan pemeriksaan EKG
ü  Lakukan pemasangan IV akses
ü  Lakukan pemerikasaan darah vena untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit.
Disability

a. lakukan pengkajian tingkat kesadaran dengan menggnakan pendekatan AVPU
b. penurunan kesadaran merupakan tanda pertama pasien dalam perburukan dan membutuhkan pertolongan di ICU

Exposure

a. pada saat pasien stabil kaji riwayat kesehatan scara detail dan lakukan pemeriksaan fisik lainnya

I . Pencegahan Pneumothoraks
  1. Pada penderita PPOM, berikanlah pengobatan dengan sebaik-baiknya, terutama bila penderita batuk, pemberian bronkodilator anti tusif ringan sering sering dilakukan dan penderita dianjurkan kalau batuk jangan keras-keras. Juga penderita tidak boleh mengangkat benda-benda berat atau mengejan terlalu kuat.
  2. Penderita TB paru, harus diobati dengan baik sampai tuntas. Lebih baik lagi bila penderita TB masih dalam tahap lesi minimal, sehingga penyembuhan dapat sempurna tanpa meninggalkan cacat yang berarti.
Rehabilitasi
    • Penderita yang telah sembuh dari pneumothoraks harus dilakukan pengobatan secara baik untuk penyakit dasar.
    • Untuk sementara waktu ( dalam beberapa minggu ), penderita dilarang  mengejan, mengangkat barang berat, batuk atau bersin yang terlalu keras.
    • Bila mengalami kesulitan defekasi karena pemberian anti tusif, berilah laksan ringan.
    • Kontrol penderita pada waktu tertentu, terutama kalau ada keluhan batuk atau sesak nafas.

J. Pengobatan Pneumothoraks
Tujuan pengobatan adalah mengeluarkan udara dari rongga pleura, sehingga paru-paru bisa kembali mengembang.
Pada pneumotoraks yang kecil biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, karena tidak menyebabkan masalah pernafasan yang serius dan dalam beberapa hari udara akan diserap.

Penyerapan total dari pneumotoraks yang besar memerlukan waktu sekitar 2-4 minggu.
Jika pneumotoraksnya sangat besar sehingga menggangu pernafasan, maka dilakukan pemasangan sebuah selang kecil pada sela iga yang memungkinkan pengeluaran udara dari rongga pleura. Selang dipasang selama beberapa hari agar paru-paru bisa kembali mengembang. Untuk menjamin perawatan selang tersebut, sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit.
 










                                                    














                                                        KONSEP DASAR KEPERAWATAN
               
1. Pengkajian
§  Riwayat Kesehatan Keluarga
§  Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya
§  Aktivitas/ Istirahat
§  Sirkulasi
§  Integritas Ego
§  Eliminasi
§  Makanan / Cairan
§  Neurosensori
§  Nyeri / Kenyamanan
§  Pernapasan
§  Keamanan
2. Diagnosa Keperawatan
- Dx.1 Masuknya udara dalam rongga pleura b/d meningkatnya aliran udara pada pleura.
- Dx.2 : adanya udara dalam rongga pleura berhubungan dengan meningkatnya tekanan dirongga pleura                                                                                                                       - Dx.3 : Nyeri dada berhubungan dengan luka robekan pada pleura                                      - Dx.4 : pusing b/d berkurangnya darah akibat dari pendarahan luka.
   
2. Tujuan :
  1. Tujuan pengobatan adalah mengeluarkan udara dari rongga pleura, sehingga paru-paru bisa kembali mengembang.
  2.  Memberikan analgetik agar tidak adanya infeksi
  3. Melakukan distraksi relaksasi
  4. Menormalkan tekanan darah

3. Kriteria hasil :
1.       pasien tidak mengatakan sesak nafas lagi
2.       tidak terdapatnya tanda-tanda infeksi
3.       pasien mengatakan nyeri pada dadanya berkurang
4.       pasien mengatakan tidak pusing lagi

4. Intervensi
1. Melakukan Tindakan observasi, yaitu dengan mengukur tekanan intra pleura               menghisap udara dan mengembangkan paru. Tindakan ini terutama ditunjukan pada pneumothoraks tertutup atau terbuka pleura.
2.  Dengan membuat hubungan udara ke luar.                                                                                        3.  - Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan                       kemampuan koping          
     - Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi
                Analgetik sebagai agen anti nyeri.                                                                                          4.      - Berikan makanan yang dapat meningkatkan tekanan darah                                                          - pemeriksaan darah dilakukan secara teratur                                                                                         - asupan gizi yang cikup
  5. Evaluasi
Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan sejauhmana tujuan tersebut tercapai. Bila ada yang belum tercapai maka dilakukan pengkajian ulang, kemudian disusun rencana, kemudian dilaksanakan dalam implementasi keperawatan lalau dievaluasi, bila dalam evaluasi belum teratasi maka dilakukan langkah awal lagi dan seterusnya sampai tujuan tercapai.
                - tidak adanya lubang dalam pleura                                                                                                                               - tidak adanya tanda-tanda infeksi                                                                                                        - tekanan udara dalam pleura kembali normal                                                                                            - tekanan darah normal

                                        DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyn E, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.

Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.

Ikram, Ainal,  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...