Minggu, 29 Mei 2011

KTI ASMA BAB I


A.       Latar Belakang
Penyakit asma adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas yang reversible yang ditandai dengan bronchospasme, inflamasi dan peningkatan reaksi jalan nafas terhadap berbagai stimulan. Penyakit ini memiliki tanda dan gejala berupa sesak nafas, batuk-batuk dari ringan sampai berat dan timbulnya suara mengi (Wheezing) (Suriadi, 2001).
Penyakit asma awalnya merupakan penyakit genetik yang diturunkan dari orang tua yang karier pada anaknya. Namun, akhir-akhir ini genetik bukan merupakan penyebab utama penyakit asma. Polusi udara dan kurangnya kebersihan lingkungan di kota-kota besar merupakan faktor dominan dalam peningkatan serangan asma. Yusharman menambahkan bahwa orang yang menderita penyakit asma 70 % diantaranya adalah disebabkan karena perilaku individu dan gaya hidup yang kurang bersih dan 30 % diantaranya adalah karena faktor genetik (Nilawati, 2008).
Asma bronkial kini merupakan penyakit jangka panjang yang paling sering terjadi di dunia, demikian hasil yang diumumkan pada pertemuan Asma Dunia di Bangkok, ahli yang berbicara atas nama Global Intiative For Asthma. Dan menurut laporan para ahli internasional pada hari peringatan asma sedunia tanggal 04 Mei 2004 yang lalu diperkirakan penderita asma diseluruh dunia mencapai 400 juta orang, dengan pertambahan 180.000 setiap tahunnya (Vitahealth, 2006).
Angka kejadian asma bervariasi di berbagai negara, tetapi terlihat kecenderungan bahwa penderita penyakit ini meningkat jumlahnya, meskipun belakangan ini obat-obat asma banyak dikembangkan. Di negara maju angka kesakitan dan kematian karena asma juga terlihat meningkat. Tanggal 4 Mei 2004 ditetapkan oleh Global Initiative in Asthma (GINA) sebagai World Asthma Day (Hari Asma se-Dunia). Menurut data organisasi kesehatan dunia (WHO), penyandang asma di dunia mencapai 100-150 juta orang. Jumlah ini diduga terus bertambah sekitar 180 ribu orang per tahun (http://outeapoci.wordpress.com/2008).
Hasil penelitian International Study on Asthma and Alergies in Childhood pada tahun 2008 menunjukkan, di Indonesia prevalensi gejala penyakit asma melonjak dari sebesar 4,2 persen menjadi 5,4 persen di jawa tengah 1,5 persen menjadi 2,5 persen dan di surakarta meningkat dari 1,5 persen menjadi 2 persen. Selama 20 tahun terakhir, penyakit ini cenderung meningkat dengan kasus kematian yang diprediksi akan meningkat sebesar 20 persen hingga 10 tahun mendatang. WHO memperkirakan di tahun 2015 terdapat 255 ribu penderita meninggal dunia karena asma.
Prevalensi atau angka kesakitan jumlah penderita asma bronkhial diwilayah RSUD Kardinah Tegal dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Dari catatan laporan Departemen Kesehatan Tegal didapat data tahun 2008 berjumlah 10 orang, tahun 2009 berjumlah 15 orang di banding dengan penyakit lain seperti DHF dan TBC yang lebih tinggi antara 25-30 di tahun 2009.
Peningkatan jumlah penderita asma di negara berkembang termasuk Indonesia saat ini membutuhkan penanganan yang serius. Data dari medical record Rumah Sakit Umum Ahmad Yani Metro menunjukkan bahwa jumlah penderita asma bronkial pada tahun 2007 masuk dalam 10 besar penyakit yang ada di ruang Penyakit Dalam yaitu mencapai 148 orang (8,26%). Sedangkan pada tahun 2008 penderita asma bronkial tidak masuk dalam 10 besar. Dari data tersebut, penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan asma bronkial. 
Penyakit asma sampai saat ini tergolong penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Jika penanganan terlambat penyakit ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi bagi penderita.
Adapun komplikasi dari penyakit asma dalam jangka yang lama mampu mengakibatkan bronchitis kronik, pneumonia, pneumotoraks bahkan mampu menyebakan      kor pulmonal dan gagal jantung, bahkan dapat menyebabkan kematian (Suriadi, 2001).
Oleh karena itu, mendorong penulis untuk mengambil kasus penyakit asma di RSUD KARDINAH TEGAL. Dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. T DENGAN MASALAH SESAK NAFAS : ASMA BRONCHIAL Di RUANG NUSA INDAH RSUD KARDINAH TEGAL.”

B.       Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini terdiri dari  : 
1.        Tujuan Umum
Mendapatkan gambaran untuk menerapkan asuhan keperawatan pada pasien gangguan pernafasan sesuai dengan masalah utama asma bronkial.
2.        Tujuan khusus
Adapun tujuan khususnya,  dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan  asma bronkial terutama dalam hal  : 
a.        Mahasiswa dapat mengkaji, mengenal masalah utama dari gangguan pernafasan asma bronkial.
b.        Mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala yang terpenting dari gangguan pernafasan dengan masalah utama asma bronkial.
c.        Mahasiswa dapat memahami penanganan dari gangguan pernafasan dengan masalah utama asma bronkial.
d.        Mahasiswa dapat menerapkan asuhan keperawatan dari gangguan pernafasan dengan masalah utama asma bronkial.
e.        Mahasiswa dapat mengevaluasi, mendokumentasikan sebagai tolak ukur guna menerapkan asuhan keperawatan gangguan pernafasandengan masalah utama asma bronkial.




C.       Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan karya tulis ini penulis menggunakan metode studi kasus dan teknis discriptif dengan pendekatan proses keperawatan.  Dan pengkajian, pelaksanaan dan evaluasi.  Sedangkan teknik pengambilan data yang penulis gunakan adalah wawancara, yaitu penulis lakukan secara langsung terhadap pasien, keluarga, perawat dan team kesehatan lain.
Metode yang digunakan penulis adalah :
1.        Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung terhadap perkembangan keadaan pasien dengan marah agresif selama melakukan asuhan keperawatan.
2.        Dokumentasi yaitu dengan catatan medik dan perawatan yang pernah dilakukan.
3.        Studi pustaka yaitu dengan membaca, kemudian menyadur dan mencocokan dengan teori.
4.        Teknik Wawancara yaitu penulis melakukan Tanya jawab secara langsung pada klien, keluarga, perawat dan dokter yang merawat guna memperoleh data-data yang dibutuhkan di RSUD Kardinah Tegal.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...