Tampilkan postingan dengan label KTI Bedah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KTI Bedah. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2011

Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Remaja Tentang HIV/AIDS Di SMA Negeri XXX

KTI : Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Remaja Tentang HIV/AIDS Di SMA Negeri XXX, judul kti, contoh kti bidanBAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kasus IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS cukup banyak terjadi dikalangan remaja. Berbagai jenis IMS serta HIV/AIDS sangat berpengaruh pada tingkat kesehatan seseorang pada umumnya dan kondisi kesehatan reproduksi pada khususnya karena pada umumnya berbagai infeksi IMS dan HIV/AIDS berkaitan langsung dengan sistem reproduksi manusia. Bahkan HIV/AIDS dapat berdampak kematian.1 Dalam banyak kesempatan diskusi dan seminar mengenai HIV/AIDS sering para pakar menyebut fenomena gunung es ditengah pandemi HIV, artinya dari seluruh data yangdapat diungkap sesungguhnya tersembunyi masalah yang jauh lebih besar. Misalnya kita mengungkap 100 data penderita HIV maka mungkin saja angka realnya bisa mencapai 100 atau sampai 1000 kali lipat.

Sangat sedikit kaum muda yang memiliki pengetahuan memadai dan benar tentang IMS termasuk HIV/AIDS padahal pengetahuan tersebut dibutuhkan untuk terhindar dari risiko penularan dan tidak diskriminatif kepada penderita AIDS. Dari data yang didapat dari UNAIDS (United Nation for AIDS) pada akhir tahun 2004 didunia diperkirakan terdapat 39,4 juta orang penderita HIV/AIDS. Menurut laporan United Nations Population Fund, HIV banyak menjangkiti remaja putri. Diperkirakan diseluruh dunia yang terjangkit penyakit HIV/AIDS 7,3 juta wanita muda dan 4,5 juta pria muda. Kalangan remaja dunia dewasa ini ibarat hidup dalam era HIV/AIDS. Laporan itu juga menyebutkan bahwa sebagian kasus baru HIV/AIDS telah menyerang remaja usia 15 – 24 tahun. Dilaporkan bahwa setiap 14 detik, satu orang remaja terinfeksi virus HIV/AIDS. Setiap hari sekitar 6000 orang berusia 15 – 24 tahun tercatat sebagai penderita baru HIV. Sebanyak 87 % pengidap HIV/AIDS hidup dinegara miskin dan berkembang. Banyak kalangan remaja tidak mempunyai informasi mengenai kesehatan, pencegahan kehamilan, HIV/AIDS serta infeksi yang ditimbulkan akibat hubungan seks. Sebagaimana disadari bahwa jumlah penduduk Indonesia dewasa ini mencapai 210 juta orang. Yang disebut remaja kira-kira 30 %. Terancamnya generasi muda dunia oleh penyakit HIV/AIDS, juga tidak terluput mengancam generasi muda indonesia.

Kasus AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia pada April 1987 (pada seorang Wisatawan Belanda, kebetulan seorang Gay, yang akhirnya meninggal di sebuah Rumah Sakit di Denpasar Bali). Pemerintah Indonesia memungkiri kasus tersebut sebagian masyarakat juga melakukan hal yang sama, apalagi kasusnya adalah Wisatawan Asing. Di Indonesia yang dikenal begitu menjunjung tinggi budaya dan norma-norma ketimuran, ternyata HIV/AIDS juga sudah berkembang dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Menurut Elisabeth Pisani, seorang Epidemiologis dari ASA (Aksi Stop AIDS), sebuah kelompok yang peduli terhadap AIDS sebagaimana dikutip AFP (AIDS Found Populations) “Indonesia adalah salah satu negara yang peningkatan Epidemi HIV/AIDS nya paling cepat didunia”.

Di Indonesia penyakit HIV/AIDS meningkat cukup tajam dari tahun ke tahun. Sejak kasus pertama diBali 1987, enam tahun kemudian (desember 1993) dilaporkan telah ditemukan di 12 propinsi dengan jumlah penderita AIDS sebanyak 49 orang dan HIV (+) 193 orang. Pada bulan Maret 2002 dilaporkan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia berjumlah 2950 orang.

Hingga Juni 2004 jumlah kasus HIV/AIDS pada kelompok usia 15 – 19 tahun berjumlah 167 orang dan usia 20 – 29 tahun berjumlah 1.225 orang. Sementara jumlah total semua usia adalah 4389 kasus HIV/AIDS. Banyaknya jumlah remaja penderita HIV/AIDS diduga karena keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan bagi remaja yang berdampak pada rendahnya pengetahuan tentang HIV/AIDS yang benar dan menyeluruh dikalangan remaja berusia 15 – 24 tahun.5 Pada tahun 2002 – 2003 Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) menemukan sekitar 34% remaja putri dan 21% remaja pria berusia 15 – 24 tahun belum pernah mendengar tentang HIV/AIDS.6 Dari Juni 2004 hingga akhir Juni 2005 jumlah pengidap HIV/AIDS di Indonesia adalah sebanyak 7098 kasus, benar-benar diluar dugaan, dalam kurun waktu satu tahun telah terjadi peningkatan sebanyak 2709 kasus.

Salah satu propinsi yang memiliki jumlah pengidap HIV/AIDS tertinggi di Indonesia adalah Papua. Data terakhir Dinas Kesehatan Propinsi Papua per 30 September 2005, menyebutkan angka HIV/AIDS di Papua mencapai 2134 kasus. Dengan perincian sebanyak 1202 kasus HIV dan 932 kasus AIDS, serta 289 diantaranya sudah meninggal. Satu hal yang mengkhawatirkan adalah kasus HIV/AIDS terbanyak justru ada pada usia produktif ( 15 – 39 tahun ), yakni sekitar 79%, pada kelompok umur 20 – 29 tahun yaitu 879 kasus, umur 30 – 39 tahun 530 kasus dan umur 15 – 19 tahun 189 kasus

Selengkapnya silahkan DOWNLOAD



GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG HIV/AIDS DI SMA NEGERI XXX BAB I - VI

download askeb, kti bidan

Selasa, 04 Oktober 2011

KTI Hipertensi

Silahkan DI Klik Link dibawah ini ;
KTI Hipertensi

Senin, 03 Oktober 2011

Asuhan Keperawatan Pada An. M dengan Gastro Enteritis Akut

Gastro Enteritis Akut adalah sebagai inflamasi membran mukosa lambung dan usus halus, Gastro Enteritis Akut ditandai dengan muntah-muntah dan diare yang mengakibatkan hilangnya cairan dan elekrolit serta menimbulkan dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit.  Pada penulisan Karya Tulis ini, penulis bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara nyata, menggunakan pendekatan, ilmu pengetahuan dan keterampilan secara pengalaman dalam memberikan asuhan keperawatan An. M dengan Gastro Enteritis Akut.
Dalam menerapkan proses keperawatan metode penulisan yang dipakai adalah metode diskriptif yaitu metode yang menggambarkan suatu keadaan atau kondisi yang nyata dengan didasarkan atas suatu teori yang dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan penulis pada pasien masalah keperawatan yang ditemukan adalah gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan output yang berlebihan, perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat, Hipertemia berhubungan dengan dehidrasi, nyeri akut berhubungan dengan Hiperperistaltik, integritas kulit berhubungan dengan dehidrasi, gangguan pola tidur berhubungan dengan penyakitnya.
Namun karena keterbatasan waktu maka penulis hanya membahas 3 diagnosa keperawatan yaitu gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan output yang berlebihan, perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat. Hipertemia berhubungan dengan dehidrasi. Setelah dilakukan perawatan selama 3 hari, pada diagnosa 1, 2 dan 3 masalah teratasi seluruhnya.

Asuhan Keperawatan Pada Tn. I dengan Fraktur Radialis Sinistra

Sistem muskuloskeletal meliputi tulang, persendian, otot, tendon, dan bursa. Masalah yang berhubungan dengan struktur ini sangat sering terjadi dan mengenai semua kelompok usia. Masalah sistem muskuloskeletal biasanya tidka mengancam jiwa, namun mempunyai dampak yang bermakna terhadap aktifitas dan produktivitas penderita. Masalah tersebut dapat dijumpai di segala bidang praktek keperawatan, sera dalam pengalaman hidup sehari-hari. (Suzanne & Smeltzer. 2001. hal: 2264). Salah satu penyakit pada muskuloskeletal adalah fraktur.
fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung maupun tidak langsung. Akibat trauma langsung pada tulang bergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya. (R.Sjamsutidajat & Wim de jong. 2004. Hal: 840). Salah satu lokasi fraktur adalah pada tulang radialis sinistra.
Fraktur Radialis Sinistra adalah fraktur yang sering terjadi dan akibat jatuh pada tangan dorsifleksi tertbuka. Tanda utama dari fraktur radialis adalah nyeri, bengkak, kelemahan, keterbatasan gerak jari dan kebas. (Suzanne & Smeltzer. 2001). Untuk kondisi di atas diperlukan perawatan atau penyatuan tulang.
Ada pun usaha pokok dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang mengalami fraktur ialah dengan pengobatan. Sebab tujuan dari pengobatan fraktur adalah dengan menempatkan ujung-ujung dari fraktur supaya satu sama lain saling berdekatan dan untuk menjaga agar mereka tetap menempel sebagai mana mestinya. Proses penyembuhan memerlukan waktu minimal 4 minggu, tetapi pada usia lanjut biasanya memerlukan waktu yang lebih lama. Setelah sembuh tulang biasanya akan kuat dan kembali berfungs.
Berdasarkan data yang penulis dapatkan dari bagian Rekam Medik Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh dari bulan Juli 2007 – Juli 2008 jumlah fraktur sebanyak 65 klien (100 %), yang mengalami muskuloskeletal terutama Fraktur Radialis sebanyak 5 klien (5 %) yang dirawat.
Berdasarkan permasalahan dan fenomena yang telah diuraikan di atas, maka penulis measa tertarik untuk melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. I DENGAN FRAKTUR RADIALIS SINISTRA DI RUANG RAWAT BEDAH PENGELOLA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CUT NYAK DHIEN MEULABOH TAHUN 2008”.
B. BATASAN MASALAH
Dalam menentukan batasan masalah yang muncul pada karya tulis ini, penulis menggunakan ruang lingkup Bedah Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh di Ruang Rawat Bedah selama tiga hari dimulai dari tanggal 31 Juli – 2 Agustus 2008.
Menurut Marylinn E. Doenges 2000 masalah keperawatan yang muncul pada klien yang mengalami fraktur adalah
1. Nyeri akut
2. Kerusakan mobilitas fisik
3. Kerusakan jaringan kulit
4. Resiko tinggi terhadap infeksi
5. Resiko tinggi terhadap trauma
6. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar)
7. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovasculer periver
8. Resiko tinggi terhadap pertukaran gas
Berdasarkan analisa data masalah keperawatan yang muncul pada Tn. I adalah :
1. Nyeri akut
2. Kerusakan mobilitas fisik
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
4. Resiko tinggi terhadap infeksi
Mengingat keterbatasan waktu yang ada selama tiga hari maka penulis hanya membatasi dan membahas tiga masalah keperawatan yang telah diperioritaskan :
1. Nyeri akut karena fraktur di pergelangan tangan kiri atasnya
2. Kerusakan mobilitas fisik
3. Resiko tinggi terhadap infeksi
C. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran dan pengalaman dalam memberikan Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Fraktur melalui tindakan Proses Keperawatan di Ruang Rawat Bedah Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian pada Tn. I dengan Fraktur Radialis Sinistra Di Ruang Rawat Bedah Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh
b. Dapat menegakkan Diagnosa Keperawatan pada Tn. I dengan Fraktur Radialis Sinistra Di Ruang Rawat Bedah Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh
c. Dapat menyusun Rencana Keperawatan pada Tn. I dengan Fraktur Radialis Sinistra Di Ruang Rawat Bedah Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh
d. Dapat melaksanakan Tindakan Keperawatan pada Tn. I dengan Fraktur Radialis Sinistra Di Ruang Rawat Bedah Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh
e. Dapat melakukan Evaluasi Keperawatan pada Tn. I dengan Fraktur Radialis Sinistra Di Ruang Rawat Bedah Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh
D. METODE PENULISAN
Penyusunan karya tulis ini menggunakan metode deskriptif yaitu suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan fenomena secara objektif : melalui tekhnik pengumpulan data, menetapkan masalah keperawatan dan merencakan tindakan yang tepat
E. SISTEMATIKA PENULISAN
Penulisan Karya Tulis Ilmiah disusun secara sistematik dan berkesinambungan yang terdiri dari tiga Bab yaitu :
BAB I : Pendahuluan, terdiri dari Latar Belakang, Batasan Masalah, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan, serta Sistematika Penulisan. BAB II : Pembahasan, terdiri dari Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi. BAB III : Penutup, terdiri dari Kesimpulan, dan Saran. Daftar Pustaka dan Lampiran

Gambaran Pengetahuan pasien Dengan Anemia Tentang Kebutuhan Nitrisi Dalam Meningkatkan Haemoglobin Darah

Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah (Doenges,1999). Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002).
Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah, kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006).
Fungsi darah adalah membawa makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting, Salah satunya otak. Otak terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika kapasitasnya kurang, maka otak akan seperti komputer yang memorinya lemah, Lambat menangkap. Dan kalau sudah rusak, tidak bisa diperbaiki (Sjaifoellah, 1998). Anemia terjadi pada saat berkurangnya kemampuan butir-butir darah untuk membawa oksigen karena adanya defisiensi dari butir darah merah untuk mengangkut oksigen oleh salah satu komponennya yaitu haemoglobin. Kurangnya unsur besi dalam asupan makanan atau terjadinya kehilangann darah atau mengalami pendarahan dalam tubuh adalah dua hal yang menjadi penyebab utama kasus anemia.Studi ini dilakukan mulai tahun 2001 sampai 2004 di mana dalam rentang waktu tersebut terjadi 1983 kematian dan 7278 kasus hospitalisasi (dirawat di rumah sakit), Dr. Bruce F ( 2004 ).
Sel darah merah membawa haemoglobin dalam sirkulasi. Sel darah merah berbentuk piring ataubiconcave, pada mamalia sel darah merah tidak bernukleus kecuali pada awal dan pada hewan-hewan tertentu. Sel darah merah pada unggas mempunyai nukleus dan berbentuk elips. Sel darah merah terdiri dari air (65%), Hb (33%), dan sisanya terdiri dari sel stroma, lemak, mineral, vitamin, dan bahan organik lainnya dan ion K (Kusumawati, 2004).
Haemoglobin merupakan zat padat dalam sel darah merah yang menyebabkan warna merah. Dibanding sel-sel lain dalam jaringan sel darah merah kurang mengandung air. Lipid yang terdapat pada sel darah merah ialah stromatin, lipoprotein, dan eliminin. Beberapa enzim yang terdapat dalam eritrosit antara lain anhidrase karbohidrat, peptidase, kolinesterase dan enzim pada sistem glikolisis (Poedjiadi,1994).
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum tulang dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Makanan merupakan masasalah yang paling utama di jumpai pada penderita anemia akibat kurang gizi, kondisi kurang gizi tanpa disadari karena gejala yang muncul hampir tak terlihat hal tersebut telah jatuh dalam kondisi  gizi  buruk dan anemia  (Depkes,2003). Gizi yang baik akan berperan dalam upaya penurunan prosentase timbulnya penyakit dan meningkatkan haemoglobin darah serta menekan angka kematian. Masalah fisiologis seperti terjadi gangguan pencernaan, penurunan sensitivitas  indera perasa dan penciuman, malabsorpsi  nutrisi serta beberapa  kemunduran fisik lainya, perubahan ini akan mempengaruhi kondisi seseorang dari aspek psikologis dan fisiologis (Emma Wirakusumah, 2002).
Gejala klinis yang muncul merefleksikan gangguan fungsi dari berbagai sistem dalam tubuh antara lain penurunan kinerja fisik, gangguan neurologik (syaraf) yang dimanifestasikan dalam perubahan perilaku, anorexia (badan kurus kerempeng), pica, serta perkembangan kognitif yang abnormal pada anak. Sering pula terjadi abnormalitas pertumbuhan, gangguan fungsi epitel, dan berkurangnya keasaman lambung. Cara mudah mengenal anemia dengan 5L, yakni lemah, letih, lesu, lelah, lalai. Kalau muncul 5 gejala ini, bisa dipastikan seseorang terkena anemia. Gejala lain adalah munculnya sklera (warna pucat pada bagian kelopak mata bawah).
Anemia bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala terasa melayang. Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung(Sjaifoellah, 1998).
Anemia juga menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Akibatnya, penderita anemia akan mudah terkena infeksi. Gampang batuk-pilek, gampang flu, atau gampang terkena infeksi saluran napas, jantung juga menjadi gampang lelah, karena harus memompa darah lebih kuat. Pada kasus ibu hamil dengan anemia, jika lambat ditangani dan berkelanjutan dapat menyebabkan kematian, dan berisiko bagi janin. Selain bayi lahir dengan berat badan rendah, anemia bisa juga mengganggu perkembangan organ-organ tubuh, termasuk otak (Sjaifoellah, 1998).
Gejala-gejala umum yang sering dijumpai pada pasien anemia antara lain : pucat, lemah, cepat lelah, keringat dingin, takikardi, hypotensi, palpitasi. (Barbara C. Long, 1996). Takipnea (saat latihan fisik), perubahan kulit dan mukosa (pada anemia defisiensi Fe).  Anorexia, diare, ikterik sering dijumpai pada pasien anemia pernisiosa (Arif Mansjoer, 2001).
Dalam laporan yang dimuat di jurnal kedokteran, Culleton dan rekan menggunakan informasi yang diperoleh dari database Calgary, untuk menyelidiki hubungan antara anemia, perawatan di rumah sakit dan dan kematian pada lebih dari 17 ribu pasien usia 66 tahun atau lebih. Studi ini dilakukan mulai tahun 2001 sampai 2004 di mana dalam rentang waktu tersebut terjadi 1983 kematian dan 7278 kasus hospitalisasi (dirawat di rumah sakit), dr.Bruce F ( 2004 ). Sementara angka kematian rata-rata adalah kelipatan lima kali jauh lebih tinggi di antara golongan lansia yang mengidap anemia. Hasil temuan tersebut sama pada pasien anemia dengan kisaran usia diatas 80 tahun yang juga disertakan dalam analisa ini..
Berdasarkan angka statistik angka anemia tingkat anemia……?
Dari hasil penelusuran peneliti di rumah sakit umum cut nyak dhien meulaboh bahwa klien dengan anemia yang mendapatkan rawatan di ruang rawat inap rumah sakit umum cut nyak dhien meulaboh jarang mendapatkan informasi yang jelas dari perawat tentang kebutuhan nutrisi dalam meningkatkan haemoglobin darah karena pola nutrisi yang tepat akan lebih cepat menyembuhkan klien selain obat – obatan, nutrisi yang tepat akan meningkatkan kemampuan klien dalam melaksanakan aktifitas sehari – hari.
Dari data yang di peroleh bahwa anemia pada tingkat nasional mencapai 35% dari jumlah penduduk Indonesia, dan untuk tingkat propinsi aceh mencap 4,2% dari jumlah penduduk, sedangkan di Ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Cutnyak Dhien Meulaboh mencapai 12% dari jumlah pasien 1206 orang pasien di rawat dengan diagnosis Anemia.

Selasa, 29 Maret 2011

KTI APENDIKSITIS BAB II


A.       Pengertian
Apendiksitis adalah peradangan dari apendiks dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering ( Mansjoer,  2000 :  307).
Appendiksitis Akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen,  penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer,  2001 :  80).
Appendiksitis adalah penyebab paling umum dari inflamasi akut kuadran kanan kanan bawah rongga abdomen dan penyebab paling umum dari pembedahan abdomen darurat (Brunner and suddart, 2000).
Appendiksitis merupakan peradangan pada usus buntu /appendiks (Anonim,  Appendiksitis,  2007).
Appendiksitis adalah kondisi dimana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan,  tetapi banyak kasus yang memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat,  angka kematian cukup tinggi,  dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur (Anonim,  Appendiks,  2007).
5
 
Berdasarkan pengertian diatas penulis menyimpulkan,  appendiksitis adalah peradangan pada usus buntu pada kuadran kanan bawah rongga abdomen,  yang dapat sembuh tanpa perawatan pada kasus ringan dan pada kasus berat memerlukan pembedahan laparotomi.

B.       Etiologi
1.      Menurut Syamsuhidayat,  2004  :  72
a.        Fekolit / massa fekal padat karena konsumsi diit rendah serat
b.        Tumor Appendiks
c.        Cacing Ascaris
d.        Erosi mukosa appendiks karena parasit E.Histolytica
e.        Hiperplasia jaringan limfe.
2.      Menurut Mansjoer, 2000  :  307
a.        Hiperplasia folikel limfoid
b.        Fekolit
c.        Benda asing
d.        Striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya
e.         Neoplasma
3.      Menurut Irga, 2007  : 
Terjadinya appendiksitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Diantara obstruksi yang terjadi pada lumen appendiks. Obstruksi pada lumen appendiks ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras dan striktur. Namun yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen appendiks adalah fekolit dan hiperplasia jaringan limfoid.
C.       Klasifikasi
Klasifikasi Appendiksitis menurut Syamsuhidayat  2004 :  78,  terbagi atas 2 yakni  : 
1.        Appendiksitis Akut,  dibagi atas  : 
a.        Appendiksitis akut fokalis/ segmentalis
Yaitu setelah sembuh akan timbul striktur local
b.        Appendiksitis purulenta difusi
Yaitu sudah bertumpuk nanah
2.        Appendiksitis kronis,  dibagi atas  : 
a.        Appendiksitis kronis fokalis atau parsial
Yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal.
b.        Appendiksitis kronis obliteritiva
Yaitu appendik miring,  biasanya ditemukan pada usia tua.

D.       Manifestasi Klinis
1.        Menurut Anonim,  Appendiksitis, 2007
Appendiksitis memiliki gejala kombinasi yang khas yang terdiri dari  : 
Mual,  muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai perut sebelah atas atau disekitar pusar,  lalu timbul mual dan muntah. Setelah beberapa jam rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah.  Jika dokter menekan daerah ini,  penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan nyeri bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37, 8 – 38o celcius.Pada bayi dan anak-anak,  nyerinya bersifat menyeluruh disemua bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil,  nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Bila usus buntu pecah,  nyeri dan demam bisa menjadi berat. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok.

2.        Menurut Betz,  Cecily 2000 :  298
a.        Sakit,  kram di peri umbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah.
b.        Anorexia.
c.        Mual.
d.        Muntah (tanda yang umum,  kurang umum pada anak yang lebih besar).
e.        Demam ringan di awal penyakit,  dapat naik tajam pada peritonitis.
f.         Nyeri lepas.
g.        Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali.
h.        Konstipasi.
i.         Diare.
j.         Disuria.
k.        Iritabilitas.
l.         Gejala berkembang cepat,  kondisi dapat di diagnosis dalam 4 sampai 6 jam setelah munculnya gejala pertama.


3.        Manifestasi klinis menurut Mansjoer, 2000 :  310.
Keluhan apendiks biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilicus/periumbilicus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2-12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah,  yang akan menetap dan diperberat bila berjalan/batuk. Terdapat juga keluhan anorexia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi,  tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual, muntah. Pada permulaan  timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen bawah akan semakin progesif dan dengan pemeriksaan sesama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. Bila tanda rousing, psoas dan obturatorpositif,  akan semakin menyakinkan diagnosa klinis.

E.       Patofisiologi
Menurut Mansjoer, 2000  :  320
Appendiksitis biasanya disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen appendiks oleh hiperplasia folikel limfoid,  fekolit,  benda asing,  striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya / neoplasma. Feses yang terperangkap dalam lumen apendiks akan menyebabkan obstruksi dan akan mengalami penyerapan air dan terbentuklah fekolit yang akhirnya sebagai kausa sumbatan. Obstruksi yang terjadi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan,  semakin lama mukus semakin banyak,  namun elastisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan tesebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema,  diapédesis bakteri,  dan ulserasi mukus. Pada saat ini terjadi appendiksitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium,  sumbatan menyebabkan nyeri sekitar umbilicus dan epigastrium,  nausea,  muntah. Invasi kuman E.Coli dan spesibakteroides dari lumen ke lapisan mukosa,  sub mukosa lapisan muskularisa dan akhirnya ke peritonium parietalis terjadilah peritonitis local kanan bawah. Suhu tubuh mulai naik, bila sekresi mukus terus berlanjut tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena,  edema bertambah dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di area kanan bawah,  keadaan ini yang kemudian disebut dengan appendiksitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding appendiks yang diikuti dengan ganggren,  stadium ini disebut dengan appendiksitis ganggrenosa. Bila dinding yang telah rapuh pecah akan menyebabkan appendiksitis perforasi. Bila proses tersebut berjalan lambat,  omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah appendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infíltrate appendikkularis. Peradangan appendiks tersebut akan menyebabkan abses atau bahkan menghilang.
Pada anak – anak,  karena omentum lebih pendek dan appendiks lebih panjang,  dinding appendiks lebih tipis. Keadaan demikian ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi,  sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena ada gangguan pembuluh darah.
Tahapan peradangan appendiksitis  : 
1.        Appendiksitis akuta (sederhana,  tanpa perforasi)
2.        Appendiksitis akuta perfórate (termasuk appendiksitis ganggrenosa,  karena dinding appendiks sebenarnya sudah terjadi mikro perforasi).














F.       Pathway
Menurut Mansjoer, 2000




















G.      Pemeriksaan Penunjang
Untuk menegakkan diagnosa pada appendicitis didasarkan atas annamnesa ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.
a.        Gejala appendicitis ditegakkan dengan anamnesa,  ada 4 hal yang penting adalah :
1.        Nyeri mula – mula di epeigastrium (nyeri visceral) yang beberapa waktu     kemudian menjalar ke perut kanan bawah.
2.        Muntah oleh karena nyeri visceral.
3.        Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus).
4.        Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan,  penderita nampak sakit,  menghindarkan pergerakan di perut terasa nyeri.
b.        Pemeriksaan yang lain
1.        Lokalisasi
Jika sudah terjadi perforasi,  nyeri akan terjadi pada seluruh perut,  tetapi paling terasa nyeri pada titik Mc Burney. Jika sudah infiltrat,  infeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit,  dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney
2.        Test Rectal
Pada pemeriksaan rectal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.


3.        Pemeriksaan Laboratorium
a.        Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang pada appendicitis akut dan perforasi akan terjadi leukositosis yang lebih tinggi lagi.
b.        Hb (hemoglobin) nampak normal.
c.        Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan appendicitis infiltrat.
d.        Urine penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
4.        Pemeriksaan Radiologi.
Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa appendicitis akut,  kecuali bila terjadi peritonitis,  tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut  : 
a.        Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan.
b.        Kadang ada fekolit (sumbatan).
c.        Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma.

H.      Penatalaksanaan
Penatalaksaan appendiksitis menurut mansjoer,  2000  :  320
1.        Sebelum operasi
a.        Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi.
b.        Pemasangan kateter untuk control produksi urin.
c.        Rehidrasi.
d.        Antibiotik dengan spektrum luas,  dosis tinggi dan diberikan secara intravena.
e.        Obat-obatan penurun panas,  phenergan sebagai anti mengigil,  largaktil untuk membuka pembuluh – pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai.
f.         Bila demam harus diturunkan sebelum diberi anestesi.
2.        Operasi
a.        Appendiktomi.
b.        Appendiks dibuang,  jika appendiks mengalami perforasi maka abdomen dicuci dengan garam fisiologi dan antibiotik.
c.        Abses appendiks diobati dengan antibiotika IV,  massanya mungkin mengecil atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari. Appendiktomi dilakukan bila abses, dilakukan operasi effektif  sesudah 6 minggu sampai 3 bulan.
3.        Pasca Operasi
a.        Observasi TTV
b.        Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan  dapat dicegah.
c.        Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.
d.        Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan selama pasien dipuasakan.
e.        Bila tindakan operasi lebih besar,  misalnya pada perforasi,  puasa dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal.
f.         Berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4-5 jam lalu dinaikan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan lunak.
g.        Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur  selama 2x30 menit.
h.        Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar.
i.         Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

I.         Komplikasi
Menurut Irga, 2007
Appendiksitis adalah penyakit yang jarang mereda dengan spontan,  tetapi penyakit ini tidak dapat diramalkan dan mempunyai kecenderungan menjadi progresif dan mengalami perforasi. Karena perforasi jarang terjadi dalam 8 jam pertama observasi aman untuk dilakukan dalam masa tersebut.
                Tanda –tanda perforasi meliputi meningkatnya nyeri,  spasme otot dinding perut kuadran kanan bawah dengan tanda peritonitis umum/abses yang terlokalisasi,  ileus,  demam,  malaise,  leukositosis semakin jelas. Bila perforasi dengan peritonitis umum atau pembentukan abses telah terjadi sejak klien pertama kali datang,  diagnosis dapat ditegakkan dengan pasti.
                Bila terjadi peritonitis umum terapi spesifik yang dilakukan adalah operasi untuk menutup asal perforasi,  sedangkan tindakan lain sebagai penunjang adalah tirah baring dalam posisi semi fowler médium,  pemasangan NGT,  puasa,  koreksi cairan dan elektrolit,  pemberian penenang,  pemberian antibiotik berspektrum luas dilanjutkan dengan pemberian antibiotik yang sesuai dengan kultur,  transfusi untuk mengatasi anemia dan penanganan syok septik secara intensif bila ada.
                Bila terbentuk abses appendiks akan teraba massa dikuadaran kanan bawah yang cenderung menggelembung ke arah rectum/vagina. Terapi ini dapat diberikan kombinasi antibiotik (misalnya ampisilin,  gentamisin,  metronidazol / klindamisin). Dengn sedian ini abses akan segera menghilang dan appendiktomi dapat dilakukan 6-12 minggu kemudian. Pada abses yang tetap progesif harus segera dilakukan drainase. Abses daerah pelvis yang menonjol ke arah rektum / vagina dengan fruktuasi positif juga perlu dibuatkan drainase.
                Tromboflebitis supuratif dari sistem portal jarang terjadi tetapi merupakan komplikasi yang letal. Hal ini harus dicurigai bila ditemukan demam sepsis,  menggigil,  hepatomegali dan ikterus setelah terjadi perforasi appendiks. Pada keadaan ini diindikasikan pemberian antibiotik kombinasi dengan drainase. Komplikasi lain yang terjadi adalah abses subfrenikus dan fokal sepsis intra abdominal lain. Obstruksi intestinal juga dapat terjadi akibat perlengkatan.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN
A.       Pengkajian
Pengkajian menurut wong (2003),  Betz (2002),  anta a lain : 
1.        Wawancara
Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya mengenai  : 
a.        Keluhan utama klien,  akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah.
b.         Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang ditanyakan kepada orang tua.
c.        Diet,  kebiasaan makan – makanan rendah serat.
d.        Kebiasaan eliminasi.
2.        Pemeriksaan fisik
a.        Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat.
b.        Sirkulasi :    Takikardia.
c.        Respirasi  :    Takipnoe,  pernafasan dangkal. 
d.        Aktivitas/istirahat  :   malaise
e.        Distensi abdomen,  nyeri tekan/ nyeri lepas,  kekakuan,  penurunan/ tidak ada bising usus.
f.         Eliminasi :    konstipasi pada awitan awal,  diare kadang-kadang.
g.        Nyeri/ketidaknyamanan :    nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burneys,  meningkat karena berjalan,  bersin, batuk atau nafas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan / posisi duduk tegak.
h.        Demam lebih dari 38o celcius.
i.         Data psikologis klien nampak gelisah.
j.         Ada perubahan denyut nadi dan pernafasan.
k.        Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
l.         Berat badan sebagai indikator untuk menentukan pemberian obat.
3.        Pemeriksaan Penunjang
a.        Tanda- tanda peritonitis kuadran kanan bawah. Gambaran perselubungan mungkin terlihat “ileal atau caecal ileus “ (gambaran garis permukaan cairan udara di sekum atau ileum).
b.        Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan appendiksitis infiltrate.
c.        Urin rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
d.        Peningkatan leukosit,  neutrofilia tanpa eosinofil.
e.        Pada enema barium appendik tidak terisi
f.         Ultrasound  :   fekolit non klasifikasi,  appendiks non perforasi,  abses appendiks.

B.       Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperawatan
Menurut Dongoes, 2000 hal 509-512 :   
1.        Nyeri berhubungan dengan discontinuitas jaringan
Tujuan  :   Melaporakan nyeri berkurang / hilang
Intervensi  : 
a.        Kaji nyeri,  catat lokasi,  karakteristik,  beratnya(skala 1-10),  selidiki dan laporkan perubahan nyeri dengan cepat
Rasional  :   Perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi.
b.        Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler
Rasional  :   Memudahkan drainase cairan/luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena karena gerakan.
c.        Dorong ambulansi dini
Rasional :    meningkatkan normalisasi fungsi organ.
d.        Berikan aktivitas hiburan.
Rasional  :   Fokus perhatian kembali,  meningkatkan relaksasi,  dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
e.        Ajarkan teknik distraksi relaksasi nafas dalam.
Rasional  :   Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian.
f.         Berikan analgetik sesuai indikasi.
Rasional  :   Analgetik menekan stimulasi saraf pusat pada talamus dan korteks serebri.
2.        Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan terbukanya port de entry kuman.
Tujuan  :   Infeksi tidak terjadi,  meningkatkan penyembuhan luka dengan benar.
Intervensi  : 
a.        Awasi tanda-tanda vital,  perhatikan demam,  menggigil,  berkeringat,  meningkatnya nyeri abdomen.
Rasional  :   Dugaan adanya infeksi/terjadinya sepsis.
b.        Lakukan pencucian tangan yang baik perawatan luka dengan teknik aseptik
Rasional  :   Menurunkan resiko penyebaran bakteri.
c.        Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik
Rasional :   Memberikan deteksi dini terjadinya proses infeksi.  
d.        Lihat insisi dan balutan,  catat adanya edema.
Rasional  :   Mendeteksi dini terjadinya proses infeksi.
e.        Berikan antibiotik sesuai indikasi
Rasional :  Diberikan secara profilitik/menurunkan jumlah organisme(pada infeksi yang telah ada sebelumnya) untuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhannya pada rongga abdomen.
3.        Intoleran aktifitas berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik/nyeri
Tujuan  :   Pasien memperlihatkan kemajuan aktifitas
Intervensi  : 
a.        Kaji respon individu terhadap aktifitas
Rasional  :  Menetapkan kemampuan klien 
b.      Meningkatkan aktifitas secara bertahap melakukan rentang gerak 2x/hari
Rasional  :  Melatih klien bergerak secara periodik.
c.       Ukur tanda-tanda vital
Rasional  :  Mengetahui keadaan umum pasien
d.      Kurangi intensitas, frekuensi / lamanya aktifitas.
Rasional  :  Mencegah kelelahan fisik.
4.        Gangguan keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexsia (mual,  muntah).
Tujuan  :    Kebutuhan nutrisi terpenuhi,  mual,  dan muntah hilang.
Intervensi
a.        Kaji makanan kesukaan klien
Rasional :    Memberikan bantuan dalam penentuan diit dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan nutrisi dan metabolik.
b.        Pantau masukan makanan
Rasional :    Membantu dalam mempertahankan masukan.
c.        Anjurkan klien minum air hangat
Rasional :    Merangsang nafsu makan.
d.        Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan atau menyiapkan makanan selagi hangat.
Rasional :    Makanan hangat dapat merangsang nafsu makan.
5.        Resiko tinggi terhadap kekurangan volumen cairan berhubungan dengan pembatasan pasca operasi,  status hipermetabolik.
Tujuan  :   Mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan dengan turgor kulit baik,  tanda-tanda vital stabil,  kelembaban membran mukosa.
Intervensi  : 
a.        Awasi tekanan darah dan nadi
Rasional  :   Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktuasi volume intravaskuler.
b.        Lihat membran mukosa,  kaji turgor kulit dan pengisian kapiler.
Rasional  :   Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler.
c.        Awasi masukan dan haluaran,  catat warna urin/konsentasi berat jenis
Rasional  :   Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan berat jenis diduga dehidrasi/kebutuhan peningkatan cairan.
d.        Auskultasi bising usus,  catat kelancaran flatus,  gerakan usus.
Rasional  :   Indikator kembalinya peristaltik,  kesiapan untuk pemasukan per oral.
e.        Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan per oral dimulai dan lanjutkan dengan diit sesuai toleransi.
Rasional  :   Menurunkan iritasi gaster/muntah untuk meminimalkan kehilangan cairan.
f.         Kolaborasi berikan cairan IV dan elektrolit
Rasional  :   Peritonium bereaksi terhadap iritasi/infeksi dengan menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat menurunkan volumen sirkulasi darah,  mengakibatkan hipovolemia,  dehidrasi dan dapat terjadi ketidakseimbangan elektrolit.
6.        Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan komponen seluler untuk pengiriman oksigen / natrium ke sel.
Tujuan  :   Menunjukan perfusi jaringan perifer adekuat
Intervensi  : 
a.        Evaluasi adanya kualitas nadi perifer digtal terhadap cidera melalui palpasi bandingkan dengan ekstremitas yang sakit.
Rasional :    Penurunan atau tidak adanya nadi dapat menggambarkan cidera vaskuler dan perlunya evaluasi medik segera terhadap status sirkulasi,
b.        Kaji aliran kapiler,  warna kulit dan kehangatan digtal pada abdomen
Rasional :    Kembalinya warna cepat(3-5 detik),  warna kulit putih menunjukkan gangguan arterial.
c.        Pertahankan peningkatan ekstremitas yang cedera kecuali di kontra indikasikan dengan meyakinkan adanya sindrom kompartemen
Rasional :    Meningkatkan drainase vena/menurunkan edema.
d.        Kaji seluruh panjang ekstremitas yang cidera untuk pembengkakan atau pembentukan edema
Rasional :    Peningkatan lingkar ekstremitas yang cidera dapat diduga adanya pembengkakan jaringan/edema.
e.        Selidiki tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba contoh penurunan suhu kulit dan peningkatan arteri.
Rasional :    Operasi appendiktomi dapat menyebabkan kerusakan arteri yang berdasarkan dengan akibat hilangnya aliran darah ke distal.  
7.        Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi,  prognosis dan kebutuhan pengobatan.
Tujuan  :   Pasien tidak cemas.      
Intervensi  : 
a.        Kaji tingkat kecemasan pasien.
Rasional :   Mengetahui sejauh mana tingkat ke cemasaan pasien.
b.        Beri support mental.
Rasional :   Mengurangi rasa gelisah pasien
c.        Diskusikan apa yang menjadi masalah pasien.
Rasional :   Memberikan pengertian kepada klien dan membantu memecahkan masalah yang dihadapi.
d.        Sediakan waktu untuk berbagi perasaan.
Rasional :   Menunjukkan rasa simpatik kepada klien

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...