A. Pengertian
Tonsillitis adalah peradangan tonsil platina yang merupakan bagian dari cincin waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut, yaitu : tonsil faringeal (adenoid), tonsil tuba eustachius (lateral band dinding faring).
(Supardi dan Iskandar , 2007)
Adenotonsilitis kronis adalah radang kronis pada tonsila palatine dan adenoid (Gotlieb, 2005)
Adenotonsilitis kronis adalah infeksi yang menetap atau berulang dari tonsil dan adenoid. Definisi adenotonsilitis kronis yang berulang terdapat pada pasien dengan infeksi 6x atau lebih per tahun. Cirri khas dari adenotonsilitis kronis adalah kegagalan dari terapi dengan antibiotic. (George, 1997)
B. Anatomi Dan Fisiologi
1. Anatomi
a. Adenoid
Adenoid merupakan kumpulan jaringan limfosid sepanjang dinding posterior nasofaring di atas batas platum mole.adenoid terletak posterior-superior dinding nasofaring di antara basis tengkorak dan dinding belakang nasofaring pada garis media. Permukaan bebasnya di lapisi epitel pseudo kompleks kolumner bersilia, permukaan dalamnya tidak berkapsul. Permukaan bebasnya mempunyai celah-celah (kripte) yang dangkal seperti lekukan saja.
b. Tonsil
|
2. Fungsi
a. Adenoid
Adenod yang dalam keadaan normal berperan membantu sistem imunitas tetapi bila telah terjadi infeksi kronis maka akan terjadi pengikisan dan fibrosis dari jaringan limfoid. Pada penyembuhan jaringan limfoid tersebut akan diganti oleh jaringan perut yang tidak berguna.
b. Tonsil
Fungsi tonsil yang sesungguhnya belum jelas di ketahui, tetapi ada beberapa teori yang dapat diterima antara lain :
1) Membentuk zat-zat anti dalam sel plasma pada waktu terjadi reaksi seluler
2) Mengadakan limfositosis dan limfositolisis.
3) Menangkap dan menghancurkan benda-benda asing maupun mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh melalui tubuh dan hidung.(Supardi dan Iskandar,2007)
C. Etiologi / Predisposisi
Penyebab tersering pada adenotonsilitis kronis adalah bakteri streptococcus b hemoliticus grup A , selain karena bakteri dapat di sebabkan oleh virus, kadang-kadang dapat disebabkan oleh bakteri seperti spirochaeta , dan treponema Vincent.(marenstein ,2001)
Faktor predisposisi :
1. Rangsangan yang menahun.(merokok, makanan)
2. Pengaruh cuaca
3. Hygiene mulut yang buruk.
( Nurbaiti dan Eliaty. 1995)
D. Patofisiologi
Adenoid merupakan kumpulan jaringan limfoid di sepanjang posterior dan nasofaring, fungsi utama dari adenoid adalah sebagai pertahanan tubuh, dalam hal ini apabila terjadi invasi bakteri melalui ujung hidung yang menuju nasofaring, maka sering terjadi invasi sistem pertahananya berupa sel-sel leucosit . apabila sering terjadi invasi kuman maka adenoid semakin lama akan semakin membesar karena sebagai kompensasi bagian atas maka dapat terjadi hiperplasi adenoid. Akibat dari hiperplasi ini akan timbul sumbatan kuana dan sumbatan tuba eusthacius. Akibat sumbatan tuba eusthacius akan terjadi otitis media akut berulang, otitis media kronik dan akhirnya dapat terjadi otitis media superatif kronik. Akibat hyperplasia adenoid juga akan menimbulkan gangguan tidur , tidur ngorok, retardasi mental, dan pertumbuhan fisik berkurang.
Pada tonsillitis kronis karena proses radang yang berulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoid di ganti oleh jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripte melebar. Secara klinik kripte tampak diisi oleh detritus . proses ini berjalan terus sampai menembus kapsul dan terjadi pelekatan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris.(gotlieb, J , 2005)
E. Manifestasi Klinik
Gejala adenotonsilitis kronik adalah :
1. Sering sakit menelan.
2. Hidung tersumbat sehingga nafas lewat mulut.
3. Tidur sering mendengkur.
4. Facies adenoid : mulut selalu membuka, hidung kecil tidak sesuai umur, tampak bodoh.
5. Kurang pendengaran karena adenoid terlalu besar menutup torus tubarius.
6. Batuk-batuk.
7. Suara yang berubah.
(Arief , Mansjoer ,2001)
F. Penatalaksaan
Pada keadaan dimana terdapat adenotonsilitis kronis berulang lebih dari 6 kali pertahun selama 2 tahun berturut-turut, maka sangat di anjurkan melakukan operasi adenotonsilektomi dengan cara kuretase.
Indikasi adenotonsilektomi :
1. Fokal infeksi.
2. Keberadaan adenoid dan tonsil sudah mengganggu fungsi-fungsi yang lain. Contoh : sakit menelan.
(Gotlieb , J , 2005)
G. Komplikasi
1. Faringitis
2. Bronchitis
3. Sinusitis kronik
4. Otitis media kronik
5. Otitis media superativ kronik
6. Komplikasi secara hematogen atau limfogen (endokarditis,miositis,nefritis,indosiklitis,dermatitis,dan furunkulosis)
(Gotlieb , J , 2005)
H. Fokus Pengkajian
Menurut Donna L. wong , 2003 :
1. Pra Operasi
a. Kaji pemahaman anak tentang rencana pembedahan dan apa yang akan terjadi pasca operasi.
b. Lakukan pengkajian fisik secara rutin.
c. Perhatikan adanya bukti-bukti kecenderungan perdarahan.
d. Perhatikan adanya bukti-bukti infeksi.
e. Periksa hasil laboratorium untuk waktu perdarahan dan pembekuan (laporkan adanya abnormalitas)
f. Perhatikan adanya gigi yang tanggal.
2. Pasca Operasi
a. Kaji adanya bukti hemoragi
b. Catat frekuensi menelan pada saat anak tidur(sering menelan lebih dari biasanya)
c. Membersihkan tenggorokan dengan sering
d. Perdarahan dalam tenggorok(masukan spatel lidah dengan hati-hati,dengan menggunakan cahaya yang baik)
e. Muntah darah merah cerah(segar),kecurigaan mucus berbercak darah, mungkin disertai sedikit darah merah gelap atau coklat tua.
f. Peningkatan nadi.
g. Penurunan tekanan darah.
h. Pucat.
i. Kegelisahan (mungkin sulit di bedakan dari ketidaknyamanan umum karena pembedahan)
3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan radiologi X-foto soft tissue nasofaring radio adenoid , untuk melihat adanya pembesaran pada adenotonsilitis kronis.
b. Pemeriksaan ASTO.
I. Pertumbuhan, Perkembangan Dan Hospitalisasi
1. Pertumbuhan dan Perkembangan
Menurut Donna L.wong, 2003, pertumbuhan dan perkembangan usia 8-9 tahun :
a. Fisik dan Motorik
1) Melanjutkan pertumbuhan 5 cm dalam 1 tahun
2) Berat badan : 19,6 – 39,6 kg, tinggi badan 117-141,8 cm
3) Gigi insisi lateral (maksimal) dan kasinus mendubalar muncul
4) Aliran gerak : sering, lemah lembut dan tenang
5) Selalu terburu-buru : melompat, lari dan meloncat
6) Peningkatan kehalusan dan kecepatan dalam control motorik halus, menggunakan tulisan sambung
7) Berpakaian lengkap sendiri
8) Suka melakukan sesuatu secara berlebihan, sukar diam, setelah istirahat
9) Lebih lentur , tulang tumbuh lebih cepat daripada ligament
b. Mental
1) Memberi kemiripan dan perbedaan antara dua hal dari memori
2) Menghitung mundur dari 20-1 memahami konsep kebalikan
3) Mengulang hari dalam seminggu dan bulan berurutan, mengetahui tanggal
4) Menggambarkan objek umum dengan mendetail, tidak semata-mata penggunannya.
5) Membuat perubahan lebih dari seperempatnya
6) Masuk kelas tiga dan empat
7) Lebih banyak membaca
8) Membaca buku klasik, tetapi juga menyukai buku komik
9) Lebih menyadari waktu, dapat dipercaya untuk pergi ke sekolah tepat waktu
10) Dapat menangkap konsep bagian dan keseluruhan (fraksi)
11) Memahami konsep ruang, penyebab dan efek, menggabungkan (puzzele) konservasi (massa dan volume permanent)
12) Mengklasifikasikan objek lebih dari satu kualitas, mempunyai koleksi
13) Menghasilkan gambar / lukisan sederhana
c. Adaptif
1) Menggunakan alat-alat umum seperti palu, jarum atau skrup
2) Menggunakan alat rumah tangga dan alat menjahit
3) Membantu tugas rumah tangga rutin, seperti mengelap, menyapu
4) Menjalankan tanggung jawab untuk berbagai tugas-tugas rumah tangga
5) Mencari semua kebutuhan sendiri saat di meja
6) Membeli artikel yang bermanfaat, melatih beberapa pilihan dalam membuat pembelian
7) Melakukan pesan yang bermanfaat
8) Menyukai majalah bergambar
9) Menyukai sekolah, ingin menjawab semua pertanyaan
10) Takut tidak naik kelas, dipermalukan karena bodoh
11) Lebih kritis diri sendiri
12) Mengambil pelajaran musik dan olahraga
d. Personal-Sosial
1) Lebih senang berada di rumah
2) Menyukai system penghargaan
3) Mendramatisasi
4) Lebih dapat bersosialisasi
5) Lebih sopan
6) Tertarik pada hubungan laki-laki , perempuan tetapi tidak terikat
7) Pergi ke rumah dan masyarakat dengan bebas, sendiri atau dengan teman
8) Menyukai kompetisi dan permainan
9) Menunjukkan kesukaan dalam berteman dan berkelompok
10) Bermain paling banyak dalam kelompok dengan jenis kalamin yang sama tetapi mulai bercampur
11) Mengembangkan kerendahan hati
12) Membandingkan diri sendiri dengan orang lain
13) Menikmati kelompok olahraga
2. Hospitalisasi
Menurut Donna L.Wong (2003). Hospitalisasi pada anak usia sekolah adalah :
a. Fasilitasi penguasaan situasi yang tidak familiar
b. Beri kesempatan untuk membuat keputusan dan control
c. Bantu untuk mengurangi stress terhadap perpisahan
d. Beri kesempatan untuk mempelajari tentang bagian-bagian tubuh, fungsinya, dan penyakit / kecacatan sendiri
e. Perbaiki konsep-konsep yang salah tentang penggunaan bagian-bagian tujuan peralatan dan prosedur medis
f. Beri peralihan dan relaksasi
g. Bantu anak untuk merasa lebih aman dalam lingkungan yang asing
h. Beri cara untuk mengurangi tekanan dan untuk mengekspresikan perasaan
i. Anjurkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-sikap yang positif terhadap orang lain
j. Beri cara untuk mengekspresikan ide kreatif dan minat
k. Beri cara untuk mencapai tujuan-tujuan terapeutik.
J. Pathway Keperawatan
Invasi tonsil dan adenoid
Adenotonsilitis
Epitel mukosa dan jaringan melebar
Kripte diisi oleh detritus
Hiperplasi adenoid
Adenoiektomi
Prosedur pembedahan
Anastesi
![]() | |||||
| |||||
![]() | |||||
Kurang pengetahuan luka insisi kurang pengetahuan
|
|

Kasar dan gundul
|
|
|
|
| ||||
K. Fokus Intervensi Dan Rasional
Menurut Donna L.wong : 2003
| no | Diagnosa | Tujuan + criteria hasil | Intervensi | Rasional |
| 1 | Pra operasi Resiko tinggi cedera berhubungan dengan prosedur bedah, anastesia | Setelah dilakukan tindakan keperawatan di harapkan pasien tidak mengalami cedera dan komplikasi dengan criteria hasil : a. Anak aman dari bahaya b. Anak teridentifikasi dengan benar dan jelas. c. Anak puasa selama waktu pra operasi yang ditentukan. d. Anak berkemih | 1. Pertahankan anak tetap puasa sesuai instruksi. 2. Pastikan bahwa anak terhidrasi dengan baik sebelum mulai puasa, terutama bayi 3. Ukur dan catat tanda-tanda vital. 4. Beri kesempatan pada anak untuk berkemih sebelum obat operasi di berikan. 5. Pastikan alergi diindikasikan dengan jelas pada catatan. 6. Periksa nilai-nilai laboratorium. 7. Periksa bahwa gelang identifikasi terpasang dengan benar. 8. Kencangkan pagar empat tidur atau keranjang bayi. 9. Gunakan restein ketika memindahkan dengan brangkar. 10. Jangan meninggalkan anak tanpa pengawasan. | 1. Untuk mencegah aspirasi selama anastesia. 2. Menghindari dehidrasi. 3. Mengidentifikasi adanya infeksi. 4. Untuk mencegah distensi kandung kemih / inkontinensia selama anastesia. 5. Untuk menurunkan resiko infeksi. 6. Untuk mengetahui adanya tanda abnormalitas sistemik. 7. Untuk menjamin ideentifikasi yang benar. 8. Untuk mencegah jatuh. 9. Untuk mencegah jatuh. 10. Menjaga keamanan anak. |
| 2 | Cemas/takut berhubungan dengan perpisahan dari sistem pendukung , lingkungan tidak di kenal, kurang pengetahuan. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien menunjukkan tanda-tanda relaksasi yang optimal, sedasi dan dukungan sebelum tiba di ruang operasi dengan criteria hasil : a. Anak tertidur atau berbaring dengan tenang. b. Anak dan keluarga menunjukkan pemahaman tentang pembedahan dan perawatan pasca operasi. | 1. Lakukan penyuluhan pra operasi. 2. Jelaskan alasan pembedahan. 3. Berikan sedasi pra operasi bila diintruksikan. 4. Tempatkan alat yang tidak di kenal di luar pandangan anak. 5. Tempatkan anak di ruangan tenang dengan distraksi minimum. 6. Dorong orang tua untuk tinggal dengan anak selama yang diijinkan dan sesuai harapan mereka. 7. Berikan objek penting menemani anak, (missal : mainan favorit) | 1. Untuk menurunkan cemas/takut. 2. Untuk menguatkan informasi yang diberikan praktisi. 3. Untuk meningkatkan relaksasi dan tidur. 4. Untuk menurunkan cemas/takut. 5. Untuk meningkatkan relaksasi dan mendorong tidur. 6. Memberikan peningkatan rasa aman. 7. Untuk memberikan rasa aman dan nyaman. |
| 3 | Perubahan proses keluarga berhubungan dengan prosedur pembedahan. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dan keluarga mendapat dukungan yang adekuat dengan criteria hasil : a. Keluarga menunujukan pemahaman tentang prosedur dan informasi yang berkaitan. b. Keluarga mematuhi petunjuk. | 1. Tekankan dan jelaskan informasi yang di berikan oleh praktisi. 2. Jelaskan jadwal anak (kapan menerima pramedikasi, waktu untuk pembedahan dan dimana orang tua menunggu) 3. Gali perasaan keluarga berkenaan dengan prosedur dan implikasinya. 4. Libatkan orang tua dalampersiapan anak. 5. Selalu ada untuk keluarga. | 1. Menguatkan informasi yang diberikan praktisi. 2. Meningkatkan pemahaman keluarga tentang prossedur. 3. Mengkaji kebutuhan terhadap intervensi lanjut. 4. Memudahkan jalanya persiapan. 5. Memberikan dukungan dan ketenangan sesuai kebutuhan. |
| 1 | Pasca oprasi Resiko tinggi cedera karena hemoragi berhubungan dengan permukaan kasar atau gundul dari permukaan tonsil. | Setelah di lakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan dengan criteria hasil : a. Anak tidak memperberat daerah operasi. b. Tidak ada bukti perdarahan atau hemoragi. | 1. Hindari anak dari batuk yang sering 2. Hindari penggunaan obat kumur atau sikat gigi yang keras. 3. Hindari makanan yang mengiritasi atau sangat pedas. 4. Anjurkan cairan dingin atau makanan semi lunak. 5. Hindari meletakkan benda keras di dalam mulut. 6. Kaji anak untuk bukti-bukti perdarahan /hemoragi. 7. Jelaskan pada orang tua bahwa adanya tanda-tanda perdarahan memerlukan perhatian medis. | 1. Menghindari trauma pada daerah operasi. 2. Menghindari trauma pada daerah operasi. 3. Menghindari iritasi pada daerah operasi. 4. Menghindari trauma pada daerah operasi. 5. Menghindari trauma pada daerah operasi. 6. Mengetahui dengan segera apabila terjadi perdarahan/ hemoragi. 7. Perdarahan dapat terjadi 5 sampai 10 hari setelah operasi pembedahan. |
| 2 | Nyeri berhubungan dengan daerah pembedahan. | Setelah di lakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien tiddak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat di terima oleh anak dengan criteria hasil : a. Anak menunjukan tidak adanya atau minimalnya bukti-bukti nyeri. b. Anak menerima pemberian obat dengan distress yang minimum. c. Anak beristirahat dengan nyaman | 1. Beri analgesic sesuai ketentuan. 2. Beri sedasi ringan sesuai ketentuan untuk kegelisahan. 3. Beri obat dengan rute yang ssesuai dengan kondisi anak. 4. Hindari pemberian cairan yang mengiritasi dan makanan padat. 5. Gunakan tekhnik pengurangan nyeri non-farmakologis. | 1. Mengurangi nyeri. 2. Mengurangi tangisan yang dapat mengiritasi daerah operasi. 3. Menghindari sakit menelan. 4. Menghindari iritasi pada daerah operasi. 5. Mengurangi nyeri. |
| 3 | Gangguan menelan berhubungan dengan inflamasi dan nyeri. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien mendapat cairan dan nutrisi yang adekuat dengan criteria hasil : a. Anak mengkonsumsi cairan dan nutrisi dalam jumlah yang adekuat. b. Anak membuang mulkus dan drainase dengan baik. | 1. Pertahankan cairan intravena sesuai ketentuan sampai cairan dapat di toleransi, 2. Beri diet yang tepat sesuai toleransi, 3. Beri penghilang nyeri. 4. Posisikan untuk optimalkan penelanan. 5. Jelaskan pada anak dan keluarga tentang pentingnya makan dan minum. 6. Bantu anak mengeluarkan mucus dan drainase tanpa batuk atau membersihkan tenggorok. 7. Beri posisi miring atau tengkurap pada saat anak tidur. | 1. Menghindari dehidrasi. 2. Memenuhi kebutuhan nutrisi. 3. Anak mampu menelan dengan baik. 4. Membantu proses menelan. 5. Meningkatkan penyembuhan. 6. Menghindari trauma pada luka operasi. 7. Meminimalkan resiko aspirasi. |
| 4 | Resiko tinggi kurang volume cairan berhubungan dengan puasa sebelum pembedahan, menolak untuk menelan. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dengan criteria hasil : a. Anak memminum cairan dalam jumlah cukup b. Anak menunjukkan bukti-bukti hidrasi yang adekuat. c. Anak menerima cairan intravena sesuai pesanan. | 1. Beri cairan sesuai instruksi. 2. Hilangkan nyeri. 3. Kaji bukti-bukti hidrasi. 4. Beri hygiene oral 5. Pertahankan masukan dan pengeluaran. | 1. Mempertahankan keseimbangan cairan tubuh. 2. Membantu anak untuk minum. 3. Menguatkan hidrasi terpenuhi. 4. Mendorong minat untuk minum. 5. Mempertahankan hidrasi. |
| 5 | Cemas/takut berhubungan dengan kejadian yang tidak di kenal , rasa tidak nyaman. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak adanya atau minimalnya rasa cemas atau takut dengan criteria hasil : a. Anak beristirahat dengan tenang dan melakukan komunikasi verbal dan non verbal dengan mudah. b. Anak mengkomunikasikan kebutuhan dan keinginan dengan cara yang tenang. | 1. Jelaskan sumber-sumber ketidak nyamanan. 2. Antisipasi kebutuhan. 3. Jaga agar anak dan tempat tidur bebas dari ekskresi bercak darah. 4. Terangkan anak berkaitan dengan adanya drainase bercak darah. 5. Letakkan wadah emesis di tempat yang mudah di jangkau. | 1. Memberikan pengetahuan pada pasien atau keluarga. 2. Untuk memenuhi kebutuhan. 3. Menghindarkan anak dari hal yang menakutkan. 4. Mengurangi kecemasan anak. 5. Memberikan peningkatan keamanan. |
| 6 | Perubahan proses keluarga berhubungan dengan krisis situasi kurang pengetahuan. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan keluarga mendapat dukungan dan ketenangan yang adekuat serta menunjukkan pemahaman tentang perawatan di rumah dengan criteria hasil : a. Keluarga mendiskusikan kondisi anak dan terapinya dengan nyaman. b. Keluarga menunjukkan pemahaman instruksi. | 1. Jelaskan tentang semua prosedur. 2. Pertahankan agar keluarga tetap mendapat informasi tentang kemajuan anak. 3. Dorong ekspresi perasaan. 4. Instruksikan orang tua tentang pemberian obat(bila diintruksikan) 5. Intruksikan orang tua dalam perawatan dan peñatalaksanaan prosedur khusus. | 1. Untuk menurunkan kecemasan. 2. Untuk menurunkan kecemasan 3. Untuk memudahkan koping. 4. Mengoptimalkan perawatan di rumah. 5. Mengoptimalkan perawatan di rumah |





0 komentar:
Posting Komentar