Senin, 29 Agustus 2011

Asuhan Keperawatan POST PARTUM

TEORI DAN PENGKAJIAN POST PARTUM

A.       PENGERTIAN POST PARTUM

                Post partum adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan kembali sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6 – 8 minggu (Mochtar, 1998). Akan tetapi seluruh alat genital akan kembali dalam waktu 3 bulan (Hanifa, 2002). Selain itu masa nifas / purperium adalah masa partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Mansjoer et.All. 1993).
Post portum / masa nifas dibagi dalam 3 periode (Mochtar, 1998) :
1.        Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
2.        Purperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya mencapainya 6 – 8 minggu.
3.        Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil / waktu persalinan mempunyai komplikasi.
Masa nifas apabila tidak di kelola dengan baik dapat menjadi masa krisis dalam kehidupan ibu dan bayi karenakeduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar biaa si iu melahirka bayi dari perutnya danbayi menysuaikan diri dalam perut ibu keduania luar. Diperkirakan bahwa 60 % kematian ibu akibat kehamilan terjadi persalinan, 50% kematian masa nifas teriadi dalam 24 jam pertama, dan 65 % kematian bayi terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir. Untuk itu petugas harus tinggal bersama ibu dan bayi untuk memastikan bahwa keduanya dalam kondisi yang stabil maka dari tiu perlu pemantauan ketat, perawatan ibu dan bayi, dan konseling ibu nifas intuk membantu mencegah kematian ibu. (Prawirhardjo, 2002)

B.       PERUBAHAN FISIOLOGIS DALAM MASA NIFAS

Masa nifas merupakan masa kembalinya organ-organ reproduksi seperti sedia kala sebelum hakil, sehongga pada masa nifas banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi, diantaranya :
1.        Perubahan dalam system reproduksi
a. Perubahan dalam uterus/rahim (involusi uterus)
b. Involusi tempat plasenta
c. Pengeluaran lochea
d. Perubahan pada perineum, vulva, dan vagina
2.        Laktasi / pengeluaran Air Susu Ibu
Selama kehamilan horman estrogen dan progesterone menginduksi perkembangan alveolus dan duktus lactiferas dari dalam mamae dan juga merangsang kolostrum sesudah kelahiran bayi ketika kadar hormone esdtrogen menurun memungkinkan terjadinya kenaikan kadar hormone prolaktin dan produksi ASI pun dimulai.
3.        Perubahan system Pencernaan
Wanita mungkin menjadi lapar dan siap makan kembali dalam 1 jam atau 2 jam setelah melahirkan. Konstipasi dapat terjadi pada masa nifas awal dikarenakan kekurangan bahan makanan selama persalinan dan pengendalian pada fase defekasi.
4.        Perubahan system perkemihan
Pembentukan air seni oleh ginjal meningkat, namun ibu sering mengalami kesukaran dalam buang air kecil, karena :
o   Perasaan untuk ingin BAK ibu kurang meskipun bledder penuh
o   Uretra tersumbat karena perlukaan/udema pada dindingnya akibat oleh kepala bayi
o   Ibu tidak biasa BAK dengan berbaring
5.        Penebalan Sistem Muskuloskeletal
Adanya garis-garis abdomen yang tidak akan pernah menghilang dengan sempurna. Dinding abdomen melunak setelah melahirkan karena meregang setelah kehamilan. Perut menggantung sering dijumpai pada multipara.
6.        Perubahan Sistem Endokrin
Kadar hormone-hormon plasenta, hormone plasenta laktogen (hpl) dan chorionia gonadotropin  (HCG), turun dengan cepat dalam 2 hari, hpl sudah tidak terdeteksi lagi. Kadar estrogen dan progesterone dalam serum turun dengan cepat dalam 3 hari pertama masa nifas. Diantara wanita menyusui, kadar prolaktin meningkat setelah bayi disusui.
7.        Perubahan Tanda-tanda Vital
Suhu badan wanita in partu tidak lebih dari 37,20C. Setelah  partus dapat naik 0,50C dari keadaan normal, tetapi tidak melebihi 38,00C sesudah 12 jam pertama melahirkan. Bila >38,00C mungkin ada infeksi. Nadi dapat terjadi bradikardi, bila takikardi dan badan tidak panas dicurigai ada perdarahan berlebih/ada vitrum korelis pada perdarahan. Pada beberapa kasus ditemukan hipertensi dan akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak ada penyakit-penyakit lain dalam kira-kira 2 bulan tanpa pengobatan.
8.        Perubahan system kardiovaskuler
Sistem kardiovaskuler pulih kembali ke keadaan tidak hamil dalam tempo 2 minngu pertama masa nifas. Dalam 10 hari pertama setelah melahirkan peningkatan factor pembekuan yang terjadi selama kehamilan masih menetap namun diimbangi oleh peningkatan aktifitas fibrinolitik.
9.        Perubahan Sistem Hematologik
Leukocytosis yang diangkat sel-sel darah putih berjumlah 15.000 selama persalinan, selanjutnya meningkat sampai 15.000 – 30.000 tanpa menjadi patologis jika wanita tidak mengalami persalinan yang lama/panjang.
Hb, HCT, dan eritrosit jumlahmya berubah-ubah pada awal masa nifas.
10.     Perubahan Psikologis Postpartum
Banyak wanita dalam minggu pertama setelah melahirkan menunjukkan gejala-gejala depresi ringan sampai berat.
C.       Tujuan asuhan masa nifas
1.        Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik
2.        Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu hamil maupun bayinya
3.        Membrikan pelayanan keluarga berencana
4.        Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan,diri nutrisi, kebutuhan, menysui, pemberian imunisasi,kepada bayi dan perawatan bayi sehat.
Dalam masa nifas paling sedikit dilakukan 4 kali kunjungan masa nifas untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir ( Prawirdjo, 2002)
kunjungan
waktu
tujuan
1
6-8 jam setelah persalinan
a.        Mencgah perdarahan masa nifas persalinan karena atonia uteri.
b.        Mendetekasi mertawat penybab lain perdarahan , rujuk jika peardarah berlanjut.
c.        Pemberian ASI awl.
d.        Menjaga bayi tetap sehat  dengan cara jika petugas kesehatan menolong persalinan ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama.
2
6 hari setelah persalinan
a.        Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
b.        Memastikan ibu mayusui dengan baik
c.        Menilai tanda- tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal
d.        Memebrrikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
3
2 minggu setelah persalinan
Sama seperti 6 hari setelah persalinan
4
6 minggu setelah persalinan
a.        Menyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami
b.        Memberikan konseling untuk kebutuhan secara dini.


D.       TANDA-TANDA BAHAYA POSTPARTUM

o    Perdarahan vagina yang hebat atau tiba-tiba bertambah banyak
o    Pengeluaran vagina yang baunya menusuk
o    Rasa sakit di bagian bawah abdomen atau punggung
o    Sakit kepala terus-menerus, nyeri ulu hati, atau masalah penglihatan
o    Pembengkakan di wajah/tangan
o    Demam, muntah, rasa sakit waktu BAK, merasa tidak enak badan
o    Payudara yang berubah menjadi merah, panas, dan atau terasa sakit
o    Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang sama
o    Rasa sakit, merah, lunak, dan pembengkakan di kaki
o    Merasa sedih, merasa tidak mampu mengasuh sendiri bayinya/diri sendiri
o    Merasa sangat letih/nafas terengah-engah

E.       Perawatan Post Partum

                Perawatan post partum dimulai sejak kala uri dengan menghindarkan adanya kemungkinan perdarahan post partum dan infeksi. Bila ada laserasi jalan lahir atau luka episiotomi, lakukan penjahitan dan perawatan luka dengan baik. Penolong harus tetap waspada sekurang-kurangnya 1 jam post partum, untuk mengatasi kemungkinan terjadinya perdarahan post partum. Delapan jam post partum harus tidur telentang untuk mencegah perdarahan post partum. Sesudah 8 jam, pasien boleh miring ke kanan atau ke kiri untuk mencegah trombhosis. Ibu dan bayi dapat ditempatkan dalam satu kamar. Pada hari seterusnya dapat duduk dan berjalan. Diet yang diberikan harus cukup kalori, protein, cairan serta banyak buah-buahan. Miksi atau berkemih harus secepatnya dapat dilakukan sendiri, bila pasien belum dapat berkemih sendiri sebaiknya dilakukan kateterisasi. Defekasi harus ada dalam 3 hari post partum. Bila ada obstipasi dan timbul komprestase hingga vekal tertimbun di rektum, mungkin akan terjadi febris. Bila hal ini terjadi dapat dilakukan klisma atau diberi laksan per os. Bila pasien mengeluh adanya mules, dapat diberi analgetika atau sedatif agar dapat istirahat. Perawatan mamae harus sudah dirawat selama kehamilan, areola dicuci secara teratur agar tetap bersih dan lemas, setelah  bersih barulah bayi disusui.
F.       ASUHAN KEPERAWATAN
a.        Pengkajian
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1999 bahwa pelayanan atau asuahan standar bagi ibu nifas terdiri atas
-          Anamnesis
1.        Rasa lelah
2.        Berapa banyak perdarahan terjadi
3.        Rasa pusing atau nyeri
-       Riwayat keperawatan
1.        Keluhan utama
Keluhan utama pada infeksi nifas ini cenderung sama dengan keluhan pada penderita pada umumnya 
2.        Pasien diminta mendeskripsikan penyakit yang dideritanya sekarang,gejala-gejala yang timbul, perawatan mandiri yang dilakukan,
3.        Riwayat hubungan seksual : sebelumnya apakah pernah menderita penyakit menular seksual, apakah sering berganti-ganti pasangan, tipe dan fekuensi hubungan seksual.
4.        Gaya hidup : apakah pasien merupakan pengguna obat-obat terlarang yang digunakan melalui IV, merokok, pemabuk, malnutrisi atau wanita yang sering stress.
5.        Kesehatan menyeluruh : hari terakhir haid terakhir, hari terahir melakukan pemeriksaan papsmear, riwayat penggunaan alat kontrasepsi.
-       Pemeriksaan fisik
-          Pemeriksaan fisik menyeluruh digunakan untuk mengidentifikasi adanya infeksi diluar infeksi nifas. Dan yang khusus digunakan untuk pemeriksaan pada daerah perut yang dilakukan ada dua macam yaitu inspeksi dan palpasi. Perlu hati-hati dalam pemeriksaan perut itu dikarenakan akan menyebabkan nyeri pada daerah uterus.serta pemeriksaan yang lain meliputi:
-          pemeriksaan tanda-tanda vital
-          Jumlah perdarhn dan warna lochea
-          Periksa uterus, perineum
-          Bersihkan alat kelamin dan tubuh ibu
-          Pastikan ibu baik
-       Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan leboratorium yang dilaksanakan antara lain :
1.        Preparat saline basah untuk memeriksa adanya tricomona
2.        Preparat basah potasium peroxide digunakan untuk memeriksa adanya jamur candidia dan adanya gardnerela.
3.        Urinalisis
4.        Kultur gonorrhoe
5.        Kultur cerviks         
6.        Kultur herpes servik
7.        Pemeriksaan darah lengkap,
8.        Pemerilsaan virus herpes simplek tipe 1 dan 2
9.        Westrern blood untuk pemeriksaan virus HIV
10.     Chlamidia yaitu tes kultur atau tes untuk mendeteksi antigen









DAFTAR PUSTAKA

Badan Penerbit Universitas Diponegoro (1991). Pelatihan Gawat Darurat Prenatal. Semarang : CV. Grafika Karya.
DEPKES RI Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Jakarta (1995). Pencegahan dan Penanganan Perdarahan Pasca Persalinan. Jakarta : DEPKES RI
Long, Barbara. C (1996). Essential of Medical Surgical Nursing. Cetakan I. Penerbit CV. Mosby Company, St. Louis, USA






0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...