Selasa, 27 September 2011

Asuhan Keperawatan CARSINOMA NASOFARING


Anatomi Nasofaring.
Nasofaring letaknya tertinggi di antara bagian-bagian lain dari faring, tepatnya di sebelah do sal dari cavum nasi dan dihubungkan dengan cavum nasi oleh koane. Nasofaring tidak bergerak, berfungsi dalam proses pernafasan dan ikut menentukan kualitas suara yang dihasilkan oleh laring. Nasofaring merupakan rongga yang mempunyai batas-batas sebagai berikut :
Atas                              : Basis kranii.
Bawah                         : Palatum mole
Belakang                     : Vertebra servikalis
Depan                          : Koane
Lateral                         : Ostium tubae Eustachii, torus tubarius, fossa rosenmuler (resesus faringeus).

Pada atap dan dinding belakang Nasofaring terdapat adenoid atau tonsila faringika.

Pengertian Carsinoma Nasofaring
Karsinoma Nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari epitel mukosa nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring.
Carsinoma Nasofaring merupakan karsinoma yang paling banyak di THT.
Sebagian besar kien datang ke THT dalam keadaan terlambat atau stadium lanjut.
Didapatkan lebih banyak pada pria dari pada wanita, dengan perbandingan 3 : 1 pada usia / umur rata-rata 30 –50 th.

Etiologi
Penyebab timbulnya Karsinoma Nasofaring masih belum jelas. Namun banyak yang berpendapat bahwa berdasarkan penelitian-penelitian epidemiologik dan eksperimental, ada 5 faktor yang mempengaruhi yakni :
1.          Faktor Genetik (Banyak pada suku bangsa Tionghoa/ras mongolid).
2.          Faktor Virus (Virus EIPSTEIN BARR)
3.          Faktor lingkungan (polusi asap kayu bakar, atau bahan karsinogenik misalnya asap rokok dll).
4.          Iritasi menahun : nasofaringitis kronis disertai rangsangan oleh asap, alkohol dll.
5.          Hormonal : adanya estrogen yang tinggi dalam tubuh.

Pembagian Karsinoma Nasofaring
Menurut Histopatologi :
§   Well differentiated epidermoid carcinoma.
-             Keratinizing
-             Non Keratinizing.

§   Undiffeentiated epidermoid carcinoma = anaplastic carcinoma
-             Transitional
-             Lymphoepithelioma.

§   Adenocystic carcinoma

Menurut bentuk dan cara tumbuh
§   Ulseratif
§   Eksofilik      : Tumbuh keluar seperti polip.
§   Endofilik      : Tumbuh di bawah mukosa, agar sedikit lebih tinggi dari jaringan sekitar (creeping tumor)

Klasifikasi Histopatologi menurut WHO (1982)

Tipe WHO 1

-             Karsinoma sel skuamosa (KSS)
-             Deferensiasi baik sampai sedang.
-             Sering eksofilik (tumbuh dipermukaan).

Tipe WHO 2

-             Karsinoma non keratinisasi (KNK).
-             Paling banyak pariasinya.
-             Menyerupai karsinoma transisional

Tipe WHO 3

-             Karsinoma tanpa diferensiasi (KTD).
-             Seperti antara lain limfoepitelioma, Karsinoma anaplastik, “Clear Cell Carsinoma”, varian sel spindel.
-             Lebih radiosensitif, prognosis lebih baik.

Indonesia              Cina
Tipe WHO             1              29%                        35%
2              14%                        23%
3              57%                        42%

Klasifikasi TNM
Menurut UICC (1987) pembagian TNM adalah sebagai berikut :
T1           = Tumor terbatas pada satu sisi nasofaring
T2           = Tumor terdapat lebih dari satu bagian nasofaring.
T3           = Tumor menyebar ke rongga hidung atau orofaring.
T4           = Tumor menyebar ke endokranium atau mengenai syaraf otak.
N1           = Metastasis ke kelenjar getah bening pada sisi yang sama, mobil, soliter dan
berukuran kurang/sama dengan 3 cm.
N2           = Metastasis pada satu kelenjar pada sisi yang sama dengan ukuran lebih dari
3 cm tetapi kurang dari 6 cm, atau multipel dengan ukuran besar kurang dari 6 cm, atau bilateral/kontralateral dengan ukuran terbesar kurang dari 6 cm.
N3           = Metastasis ke kelenjar getah bening ukuran lebih besar dari 6 cm.
M0          = Tidak ada metastasis jauh.
M1          = Didapatkan metastasis jauh.

Penentuan Stadium
Stadium I              T1           N0           M0
Stadium II            T2           N0           M0
Stadium III           T3           N0           M0
T1 – 3    N1           M0
Stadium IV           T4           N0 – 1    M0
Semua T              N2 – 3    M0
Semua T              Semua N               M1

Lokasi :
1           Fossa Rosenmulleri.
2           Sekitar tuba Eustachius.
3           Dinding belakang nasofaring.
4           Atap nasofaring.

Gejala Klinik
1.          Gejala Setempat :
Gejala Hidung            :
Pilek dari satu atau kedua lubang hidung yang terus-menerus/kronik.
Lendir dapat bercampur darah atau nanah yang berbau.
Epistaksis dapat sedikit atau banyak dan berulang.
Dapat juga hanya berupa riak campur darah.
Obstruksio nasi unilateral atau bilateral bila tumor tumbuh secara eksofilik

Gejala Telinga            :
ü   Kurang, pendengaran.
ü   Tinitus
ü   OMP.

2.          Gejala karena tumbuh dan menyebarnya tumor
Merupakan gejala yang timbul oleh penyebaran tumor secara ekspansif, infiltratif dan metastasis.
a.          Ekspansif
A          Ke muka, tumor tumbuh ke depan mengisi nasofaring dan menutuk koane sehingga timbul gejala obstruksi nasi/hidung buntu.
A          Ke bawah, tumor mendesak palatum mole sehingga terjadi “bombans palatum mole” sehingga timbul gangguan menelan/sesak.

b.          Infiltratif
A          Ke atas :
Melalui foramen ovale masuk ke endokranium, maka terkena dura dan timbul sefalgia/sakit kepala hebat, Kemudian akan terkena N VI, timbul diplopia, strabismus. Bila terkena N V, terjadi Trigeminal neuralgi dengan gejala nyeri kepala hebat pada daerah muka, sekitar mata, hidung, rahang atas, rahang bawah dan lidah. Bila terkena N III dan IV terjadi ptosis dan oftalmoplegi. Bila lebih lanjut lagi akan terkena N IX, X, XI dan XII.
A          Ke samping       :
Masuk spatium parafaringikum akan menekan N IX dan X                : Terjadi Paresis palatum mole, faring dan laring dengan gejala regurgitasi makan-minum ke kavum nasi, rinolalia aperta dan suara parau.
Menekan N XI : Gangguan fungsi otot sternokleido mastoideus dan otot trapezius.
Menekan N XII               : Terjadi Deviasi lidah ke samping/gangguan menelan
c.          Gejala karena metastasis melalui aliran getah bening       :
Terjadi pembesaran kelenjar leher yang terletak di bawah ujung planum mastoid, di belakang ungulus mandibula, medial dari ujung bagian atas muskulus sternokleidomastoideum, bisa unilateal dan bilateral. Pembesaran ini di sebut tumor colli.
d.          Gejala karena metastasis melalui aliran darah   :
Akan terjadi metastasis jauh yaitu paru-paru, ginjal, limpa, tulang dan sebagainya.

Gejala di atas dapat dibedakan antara :
I.           Gejala Dini : Merupakan gejala yang dapat timbul waktu tumor masih tumbuh dalam batas-batas nasofaring, jadi berupa gejala setempat yang disebabkan oleh tumor primer (gejala-gejala hidung dan gejala-gejala telinga seperti di atas).
II.        Gejala Lanjut : Merupakan gejala yang dapat timbul oleh karena tumor telah tumbuh melewati batas nasofaring, baik berupa metastasis ataupun infiltrasi dari tumor.

Sebagai pedoman :
Ingat akan adanya tumor ganas nasofaring bila dijumpai TRIAS :
A.         Tumor colli, gejala telinga, gejala hidung.
B.         Tumor colli, gejala intrakranial (syaraf dan mata), gejala hidung dan telinga.
C.         Gejala Intrakranial, gejala hidung dan telinga.

Pemeriksaan Fisik
A          Inspeksi              : Wajah, mata, rongga mulut dan leher.
A          Pemeriksaan THT:
-             Otoskopi            : Liang telinga, membran timpani.
-             Rinoskopia anterior :
o           Pada tumor endofilik tak jelas kelainan di rongga hidung, mungkin hanya banyak sekret.
o           Pada tumor eksofilik, tampak tumor di bagian belakang rongga hidung, tertutup sekret mukopurulen, fenomena palatum mole negatif.
-             Rinoskopia posterior :
o           Pada tumor indofilik tak terlihat masa, mukosa nasofaring tampak agak menonjol, tak rata dan paskularisasi meningkat.
o           Pada tumor eksofilik tampak masa kemerahan.
-             Faringoskopi dan laringoskopi :
Kadang faring menyempit karena penebalan jaringan retrofaring; reflek muntah dapat menghilang.
-             X – foto              : tengkorak lateral, dasar tengkorak, CT Scan

Pemeriksaan tambahan
-             Biopsi :
Biopsi sedapat mungkin diarahkan pada tumor/daerah yang dicurigai. Dilakukan dengan anestesi lokal.
Biopsi minimal dilakukan pada dua tempat (kiri dan kanan), melalui rinoskopi anterior, bila perlu dengan bantuan cermin melalui rinoskopi posterior.
Bila perlu Biopsi dapat diulang sampai tiga kali.
Bila tiga kali Biopsi hasil negatif, sedang secara klinis mencurigakan dengan karsinoma nasofaring, biopsi dapat diulang dengan anestesi umum.
Biopsi melalui nasofaringoskopi dilakukan bila klien trismus atau keadaan umum kurang baik.
Biopsi kelenjar getah bening leher dengan aspirasi jarum halus dilakukan bila terjadi keraguan apakah kelenjar tersebut suatu metastasis.

Penatalaksanaan :
ü   Terapi utama : Radiasi/Radioterapi ® ditekankan pada penggunaan megavoltage dan pengaturan dengan komputer (4000 – 6000 R)
ü   Terapi tambahan : diseksi leher, pemberian tetrasiklin, faktor transfer, inferferon, Sitostatika/Kemoterapi, seroterapi, vaksin dan anti virus
Semua pengobatan tambahan ini masih dalam pengembangan, sedangkan kemoterapi masih tetap terbaik sebagai terapi ajuvan (tambahan). Berbagai macam kombinasi dikembangkan, yang terbaik sampai saat ini adalah kombinasi dengan Cis-platinum sebagai inti. Pemberian ajuvan kemoterapi Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil sedang dikembangkan di bagian THT Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dengan hasil sementara yang cukup memuaskan. Demikian pula telah dilakukan penelitian pemberian kemoterapi praradiasi dengan efirubicin dan cis-platinum, meskipun ada efek samping yang cukup berat, tetapi memberikan harapan kesembuhan yang lebih baik.


PATOFISIOLOGI
 






Telinga
Pendengaran berkurang
¯
Perubahan sensori persepsi pendengaran




Hidung
Pilek kronis
¯
Sakit kepala/pusing
Hidung buntu (terasa)
¯
Bersihan jalan nafas tidak efektif

Pengkajian
1.          Aktivitas/istirahat
Gejala          :
-             Kelemahan dan / atau kelelahan.
-             Perubahan pada pola istirahat / jam tidur karena keringat berlegih, nyeri atau ansietas.
2.          Integritas Ego :
Gejala          :
-             Faktor stress (perubahan peran atau keuangan).
-             Cara mengatasi stress (keyakinan/religius).
-             Perubahan penampilan.
3.          Makanan/cairan
Gejala          : Kebiasaan diet buruk (Bahan Pengawet)
4.          Neurosensori
Gejala          : Pusing atau sinkope
5.          Pernafasan
Gejala          : Pemajanan bahan aditif
6.          Interaksi sosial
Gejala          : Kelemahan sistem pendukung
7.          Pembelajaran
Gejala          : Riwayat kanker pada keluarga

Prioritas Keperawatan
1.          Dukungan adaptasi dan kemandirian.
2.          Meningkatkan kenyamanan.
3.          Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.
4.          Mencegah komplikasi.
5.          Memberi informasi tentang proses/kondisi penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan.

Tujuan Pemulangan
1.          Klien menerima situasi dengan realistis.
2.          Nyeri berkurang/terkontrol.
3.          Homeostasis dicapai.
4.          Komplikasi dicegah/dikurangi
5.          Proses/kondisi penyakit, prognosis, pilihan terapeutik dan aturan dipahami.

Diagnosa Keperawatan
1.          Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada kepala.
Tujuan : Gangguan pola tidur pasien akan teratasi.
Kriteria hasil : 1. Pasien mudah tidur dalam waktu 30 – 40 menit.
2. Pasien tenang dan wajah segar.
3. Pasien mengungkapkan dapat beristirahat dengan cukup.
Rencana tindakan :
1.         Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.
Rasional : Lingkungan yang nyaman dapat membantu meningkatkan tidur/istirahat.
2.         Kaji tentang kebiasaan tidur pasien di rumah.
Rasional : Mengetahui perubahan dari hal-hal yang merupakan kebiasaan pasien ketika tidur akan mempengaruhi pola tidur pasien.
3.         Kaji adanya faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain seperti cemas, efek obat-obatan dan suasana ramai.
Rasional : Mengetahui faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain dialami dan dirasakan pasien.
4.         Anjurkan pasien untuk menggunakan pengantar tidur dan teknik relaksasi .
Rasional : Pengantar tidur akan memudahkan pasien dalam jatuh dalam tidur, teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan dan rasa nyeri.
5.         Kaji tanda-tanda kurangnya  pemenuhan kebutuhan tidur pasien.
Rasional : Untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan tidur pasien akibat gangguan pola tidur sehingga dapat diambil tindakan yang tepat.

2.          Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang.
Kriteria Hasil : 1. Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan.
2. Emosi stabil., pasien tenang.
3. Istirahat cukup.
Rencana tindakan :
1.         Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.
Rasional : Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.
2.        Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.
Rasional : Dapat meringankan beban pikiran pasien.
3.        Gunakan komunikasi terapeutik.
Rasional : Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan.
4.        Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan.
Rasional : Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien.
5.        Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.
Rasional : Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien.
6.        Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara bergantian.
Rasional : Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu.
7.        Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.
Rasional : Lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien.

3.          Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya.
Kriteria Hasil : 1. Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.
2. Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.
Rencana Tindakan :
1.         Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM dan Ca. Nasofaring
Rasional : Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga.
2.         Kaji latar belakang pendidikan pasien.
Rasional : Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien.
3.         Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.
Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.
4.         Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.
Rasional : Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang.
5.         Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan (jika ada / memungkinkan).
Rasional : Gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan.

4.          Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi
Kriteria hasil : 1. Berat badan dan tinggi badan ideal.
2. Pasien mematuhi dietnya.
3. Kadar gula darah dalam batas normal.
4. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.
Rencana Tindakan :
1.         Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.
Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat.
2.         Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.
Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia.
3.         Timbang berat badan setiap seminggu sekali.
Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien (berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet).
4.         Identifikasi perubahan pola makan.
Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan.
5.         Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik.
Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam jaringan sehingga gula darah menurun,pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.

Evaluasi
A.        Berhasil : prilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal yang ditetapkan di tujuan.
B.        Tercapai sebagian : pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik yang ditentukan dalam pernyataan tujuan.
C.        Belum tercapai. : pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan prilaku yang diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta.

Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.

Dunna, D.I. Et al. (1995). Medical  Surgical Nursing ; A Nursing Process Approach. 2 nd Edition : WB Sauders.

Lab. UPF Ilmu Penyakit THT FK Unair. (1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Lab/UPF Ilmu Penyakit THT. Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetom Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya.

Makalah Kuliah THT. Tidak dipublikasikan

Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta

Rothrock, C. J. (2000). Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. EGC : Jakarta.

Sjamsuhidajat & Wim De Jong. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC : Jakarta.

Soepardi, Efiaty Arsyad & Nurbaiti Iskandar. (2000). Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Edisi kekempat. FKUI : Jakarta.

Sri Herawati. (2000). Anatomi Fisiologi Cara Pemeriksaan Telinga, Hidung, Tenggorokan. Laboratorium Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...