Selasa, 27 September 2011

Asuhan Keperawatan PNEUMONIA PADA ANAK


A. DEFINISI
Pneumonia adalah salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan bagian bawah. Pada penyakit infeksi saluran pernafasan akut, sekitar 15-20% ditemukan pneumonia ini. Pneumonia merupakan suatu peradangan alveoli atau pada parenchyma paru yang terjadi pada anak. Definisi lainnya adalah pneumonia merupakan suatu sindrom (kelainan) yang disebabkan agen infeksius seperti virus, bakteri, mycoplasma (fungi), dan aspirasi substansi asing, berupa radang paru-paru yang disertai eksudasi dan konsolidasi.

B. ETIOLOGI
-     streptococcus pneumonia melalui droplet
-     Staphylococcus aureus melalui slang infuse
-     Pneumococcus  aerugenisa dan enterobakter melalui ventilator
-     H.Influenzae
-     Mycoplasma (pada anak yang relatif besar)
-     adenovirus, Rhinovirus, Rubela, Varisela
-     Aspirasi benda asing

C. FAKTOR RISIKO PNEUMONIA PADA ANAK
1.     Status gizi buruk, menempati urutan pertama pada risiko pneumonia pada anak balita, dengan tiga kriteria antopometri yaitu BB/U, TB/U, BB/TB. Status gizi yang buruk dapat menurunkan pertahanan tubuh baik sistemik maupun lokal juga dapat mengurangi efektifitas barier dari epitel serta respon imun dan reflek batuk.
2.     Status ASI buruk, anak yang tidak mendapat ASI yang cukup sejak lahir ( kurang 4 bulan) mempunyai risiko lebih besar terkena pneumonia. ASI mengandung kekebalan penyakit infeksi terutama pneumonia.
3.     Status vitamin A, pemberian vitamin A pada anak berpengaruh pada sistem imun dengan cara meningkatkan imunitas nonspesifik, pertahanan integritas fisik, biologik, dan jaringan epitel. Vitamin A diperlukan dalam peningkatan daya tahan tubuh, disamping untuk kesehatan mata, produksi sekresi mukosa, dan mempertahankan sel-sel epitel.
4.     Riwayat imunisasi buruk atau tidak lengkap, khususnya imunisasi campak dan DPT. Pemberian imunisasi campak menurunkan kasus pneumonia karena sebagian besar penyakit campak menyebabkan komplikasi dengan pneumonia. Demikian pula imunisasi DPT dapat menurunkan kasus pneumonia karena Difteri dan Pertusis dapat menimbulkan komplikasi pneumonia.
5.     Riwayat wheezing berulang, anak dengan wheezing berulang akan sulit mengeluarkan nafas. Wheezing terjadi karena penyempitan saluran nafas (bronkus), yang disebabkan oleh adanya infeksi. Secara biologis dan kejadian infeksi berulang ini menyebabkan terjadinya destruksi paru, keadaan ini memudahkan pneumonia pada anak.
6.     Riwayat BBLR, anak dengan riwayat BBLR mudah terserang penyakit infeksi termasuk pneumonia karena daya tahan tubuh rendah.
7.     Kepadatan penghuni rumah, rumah dengan penghuni yang padat meningkatkan risiko pneumonia dibanding dengan penghuni sedikit. Rumah dengan penghuni banyak memudahkan terjadinya penularan penyakit saluran pernafasan.
8.     Status sosial ekonomi, ada hubungan bermakna antara tingkat penghasilan keluarga dengan pendidikan orang tua terhadap kejadian pneumonia anak.

D. PATOFISIOLOGI
Jalan nafas secara normal steril dari benda asingdari area sublaringeal sampai unit paru paling ujung. Paru dilindungi dari infeksi bakteri dengan beberapa mekanisme:
1.       filtrasi partikel dar hidung.
2.       pencegahan aspirasi oleh reflek epiglottal.
3.       Penyingkiran material yang teraspirasi dengan reflek bersin.
4.       Penyergapan dan penyingkiran organisme oleh sekresi mukus dan sel siliaris.
5.       Pencernaan dan pembunuhan bakteri oleh makrofag.
6.       Netralisasi bakteri oleh substansi imunitas lokal.
7.       Pengangkutan partikel dari paru oleh drainage limpatik.
Infeksi pulmonal bisa terjadi karena terganggunya salah satu mekanisme pertahanan dan organisme dapat mencapai traktus respiratorius terbawah melalui aspirasi maupun rute hematologi. Ketika patogen mencapai akhir bronkiolus maka terjadi penumpahan dari cairan edema ke alveoli, diikuti leukosit dalam jumlah besar. Kemudian makrofag bergerak mematikan sel dan bakterial debris. Sisten limpatik mampu mencapai bakteri sampai darah atau pleura viseral.
Jaringan paru menjadi terkonsolidasi. Kapasitas vital dan pemenuhan paru menurun dan aliran darah menjadi terkonsolidasi, area yang tidak terventilasi menjadi fisiologis right-to-left shunt dengan ventilasi perfusi yang tidak pas dan menghasilkan hipoksia. Kerja jantung menjadi meningkat karena penurunan saturasi oksigen dan hiperkapnia.  

E.  TANDA DAN GEJALA

1.     Demam tinggi, sering tampak sebagai tanda infeksi yang pertama. Paling sering terjadi pada usia 6 bulan – 3 tahun dengan suhu mencapai 39,50 – 40,50 C bahkan dengan infeksi ringan. Mungkin malas dan peka rangsang atau terkadang eoforia dan lebih aktif dari normal, beberapa anak bicara dengan kecepatan yang tidak biasa.
2.     Batuk, sesak nafas
3.     Bunyi pernafasan, seperti mengi, mengorok. Auskultasi terdengar mengi, krekels.
4.     Keluaran nasal (ingus), mungkin encer dan sedikit (rinorea) atau kental dan purulen, bergantung pada tipe dan atau tahap infeksi.
5.     Penggunaan otot bantu pernafasan, retraksi intercosta
6.     Sakit tenggorokan, merupakan keluhan yang sering terjadi pada anak yang lebih besar. Ditandai dengan anak akan menolak untuk minum dan makan per oral.
7.     Sakit kepala, malaise, myalgia
8.     Nyeri abdomen
9.     Anoreksia, muntah.
10. Diare, biasanya ringan, diare sementara tetapi dapat menjadi berat. Sering menyertai infeksi pernafasan. Khususnya karena virus.

F.  KLASIFIKASI
Secara klinis, pneumonia dapat terjadi baik sebagai penyakit primer maupun sebagai komplikasi dari beberapa penyakit lain. Secara morfologis pneumonia dikenal sebagai berikut:
1.     Pneumonia lobaris, melibatkan seluruh atau satu bagian besar dari satu atau lebih lobus paru. Bila kedua paru terkena, maka dikenal sebagai pneumonia bilateral atau “ganda”.
2.     Bronkopneumonia, terjadi pada ujung akhir bronkiolus, yang tersumbat oleh eksudat mukopurulen untuk membentuk bercak konsolidasi dalam lobus yang berada didekatnya, disebut juga pneumonia loburalis.
3.     Pneumonia interstisial, proses inflamasi yang terjadi di dalalm dinding alveolar (interstisium) dan jaringan peribronkial serta interlobular.
Pneumonia lebih sering diklasifikasikan berdasarkan agen penyebabnya yaitu:
1.     Pneumonia virus, lebih sering terjadi dibandingkan pneumonia bakterial. Terlihat pada anak dari semua kelompok umur, sering dikaitkan dengan ISPA virus, dan jumlah RSV untuk persentase terbesar. Dapat akut atau berat. Gejalanya bervariasi, dari ringan seperti demam ringan, batuk sedikit, dan malaise. Berat dapat berupa demam tinggi, batuk parah, prostasi. Batuk biasanya bersifat tidak produktif pada awal penyakit. Terdengar sedikit mengi atau krekels saat auskultasi.
2.     Pneumonia atipikal, agen etiologinya adalah mikoplasma, terjadi terutama di musim gugur dan musim dingin, lebih menonjol di tempat dengan kondisi hidup yang padat penduduk. Mungkin tiba-tiba atau berat. Gejala sistemik umum seperti demam, mengigil (pada anak yang lebih besar), sakit kepala, malaise, anoreksia, mialgia. Yang diikuti dengan rinitis, sakit tenggorokan, batuk kering, keras. Pada awalnya batuk bersifat tidak produktif, kemudian bersputum seromukoid, sampai mukopurulen atau bercak darah. Krekels krepitasi halus di berbagai area paru.
3.     Pneumonia bakterial, meliputi pneumokokus, stafilokokus, dan pneumonia streptokokus, manifestasi klinis berbeda dari tipe pneumonia lain, mikro-organisme individual menghasilkan gambaran klinis yang berbeda. Awitannya tiba-tiba, biasanya didahului dengan infeksi virus, toksik, tampilan menderita sakit yang akut , demam, malaise, pernafasan cepat dan dangkal, batuk, nyeri dada sering diperberat dengan nafas dalam, nyeri dapat menyebar ke abdomen, menggigil, meningismus.
Berdasarkan usaha terhadap pemberantasan pneumonia melalui usia, pneumonia dapat diklasifikasikan:
1.     Usia 2 bulan – 5 tahun
a.     Pneumonia berat, ditandai secara klinis oleh sesak nafas yang dilihat dengan adanya tarikan dinding dada bagian bawah.
b.     Pneumonia, ditandai secara klinis oleh adanya nafas cepat yaitu pada usia 2 bulan – 1 tahun frekuensi nafas 50 x/menit atau lebih, dan pada usia 1-5 tahun 40 x/menit atau lebih.
c.     Bukan pneumonia, ditandai secara klinis oleh batuk pilek biasa dapat disertai dengan demam, tetapi tanpa tarikan dinding dada bagian bawah dan tanpa adanya nafas cepat.
2.     Usia 0 – 2 bulan
a.     Pneumonia berat, bila ada tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau nafas cepat yaitu frekuensi nafas 60 x/menit atau lebih.
b.     Bukan pneumonia, bila tidak ada tarikan kuat dinding dada bagian bawah dan tidak ada nafas cepat.

G. KOMPLIKASI

-     Gangguan pertukaran gas
-     Obstruksi jalan nafas            
-     Gagal pernafasan, pleural effusion ( bacterial pneumonia)

H.  PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.     Pemeriksaan laboratorium
a.     Leukosit, umumnya pneumonia bakteri didapatkan leukositosis dengan predominan polimorfonuklear. Leukopenia menunjukkan prognosis yang buruk.
b.     Hitung darah lengkap dan hitung jenis untuk menetapkan adanya anemia, proses inflamasi, infeksi.
c.     AGD untuk mengevaluasi status kardiopulmoner sehubungan dengan oksigenasi.
2.     Pemeriksaan Bakteriologis
a.     Kultur darah, cairan pleura untuk menetapkan agen penyebab seperti virus dan bakteri.
b.     Biopsi paru
c.     Bronkoskopi digunakan untuk melihat dan memanipulasi cabang-cabang utama dari trakheobronkial, jaringan yang diambil untuk uji diagnostik secara terapetik digunakan untuk menetapkan dan mengangkat benda asing
3.     Pemeriksaan imunologis : titer antibody terhadapa virus dengan teknik: Conunter Immunoe Lectrophorosis, ELISA, latex agglutination, atau latex coagulation.
4.     Foto thorax, digunakan untuk melihat adanya infeksi di paru-pa u dan status pulmoner (untuk mengkaji perubahan pada paru)
5.     Tes fungsi paru digunakan untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan luas dan beratnya penyakit dan membantu mendiagnosis keadaan.

G.TERAPI

1.     Antibiotik sesuai hasil biakan seperti: Penisilin, Amoksisilin, Kombinasi flukosasillin dan gentamisin atau sefalospirin, eritromisin,
2.     Terapi suportif
Ü Terapi Oksigen 1-2 lt/mnt
Ü Humidifikasi dengan nebulizer
Ü Fisioterpi dada
Ü IVFD dekstrose 10%:NaCl 0,9%= 3:1, KCL 10 mEq/500 ml cairan. Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu, dan status hidarsi
Ü Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui selang ngt dengan feeding drip
Ü Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan normal salin dan beta agonis untuk memperbaiki transfor mukosilier
Ü Pemberian kortikosteroid pada fase sepsis berat
Ü Obat inotropik
Ü Drainase empiema
Ü Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit

H. ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
  1. Riwayat pasien: Panas, batuk, nasal discharge, perubahan pola makan, kelemahan, Penyakit respirasi sebelumnya,perawatan dirumah, penyakit lain yangdiderita anggota keluarga di rumah
  2. Pemeriksaan Fisik: Demam, dispneu, takipneu, sianosis, penggunaan otot pernapasn tambahan, suara nafas tambahan, rales, menaikan sel darah putih (bakteri pneumonia), arterial blood gas, X-Ray dada
  3. Psikososial dan faktor perkembangan: Usia, tingkat perkembangan, kemampuan memahami rasionalisasi intervensi, pengalaman berpisah denganm orang tua, mekanisme koping yang diapkai sebelumnya, kebiasaan (pengalaman yang tidak menyenangkan, waktu tidur/rutinitas pemberian pola makan, obyek favorit)
  4. Pengetahuan pasien dan keluarga: Pengalaman dengan penyakit pernafasan, pemahaman akan kebutuhan intervensi pada distress pernafasan, tingkat pengetahuan kesiapan dan keinginan untuk belajar.

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
  1. Pola nafas tidak efektif  b.d proses inflamasi
  2. Bersihan jalan nafas tidak efektif  b.d obstruksi mekanis, inflamasi, peningkatan sekresi, nyeri.
  3. Gangguan pertukaran gas b.d meningkatnya sekresi dan akumulasi eksudat
  4. Risiko kekurangan volume cairan b.d.  peningkatan metabolisme, takipneu, demam
  5. Kurang  pengetahuan tentang perawatan anak setelah pulang b.d. kurang informasi
  6. Risiko infeksi b.d. prosdur infasive
  7. Risiko Aspirasi b.d.  menurunnya batuk dan refleks menelan, NGT, peningkatan tekanan intra gaster


DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily, 1997, Buku Saku Keperawatan Pediatri, jakarta, EGC

Closkey JC & Bulechek. 1996. Nursing Intervention Classification. 2nd ed. Mosby Year Book.

Johnson M, dkk. 2000. Nursing Outcome Classification (NOC). Second edition. Mosby.

Mansjoer, Arif, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, ed-3, jakarta, Media Auskkulapius FK UI

NANDA, 2001, Nursing Diagnosis: Definition & Classification 2051-2006, Philadelphia, North American Nursing Diagnosis Association

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC

Price, Sylvia A, 1995, Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit, Jakarta, EGC.

Suriadi, Rita Yulianni. 2005. Asuhan Keperawatan pada Anak Edisi 2. Jakarta: Sagung Seto

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...